Makassar, Inspirasimakassar.com

Kota Makasar kini tidak lagi memiliki status dalam penanganan pandemi Covid-19. Sejak virus corona merebak beberapa bulan lalu, pemerintah secara nasional telah melakukan tahapan penanganan yang dikenal dengan istilah lock down dan karantina wilayah terbatas.

Sulawesi Selatan sendiri hanya mengambil kebijakan stay home selama 14 hari, yang kemudian secara resmi memperlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Kota Makassar sendiri hanya mampu melakukan dua kali PSBB, sehingga sejak berakhir awal Juni lalu, Makassar hingga kini tak berada pada status PSBB namun juga belum dinyatakan sebagai kota yang menerapkan tatanan kehidupan baru untuk beradaptasi dengan Covid-19 yang oleh Presiden Jokowi mengistilahkan New Normal.

Penjabat (PJ) Walikota Makassar, Rudy Jamaluddin yang baru saja dilantik menggantikan Prof. Yusran saat memberikan sambutan di hadapan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makassar dan pemuka agama dari berbagai organisasi keagamaan pada kegiatan “Dialog Kebangsaan merefleksi sikap masyarakat menghadapi Covid-19″ di Ruang Pola Kantor Walikota, Sabtu (27/06/2020), mengatakan, Kota Makassar saat ini tanpa status setelah penarapan PSBB berakhir namun hingga kini Pemkot juga belum menyatakan Makassar menerapkan kehidupan New Normal.

Kegiatan dialog kebangsaan yang digelar MUI Kota Makassar bertujuan, mengantisipasi berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat di dalam menyikapi wabah Covid-19. Terutama dalam mendukung ketaatan warga masyarakat di dalam mematuhi protokol kesehatan Covid-19, termasuk banyaknya beredar isu hoax yang tidak jelas sumbernya yang cenderung mempertentankan antara urusan kesehatan dan keyakinan beragama. Selain Ketua MUI Makasar Dr.KH Baharuddin As. dialog kebangsaan menghadirkan Dr. Hj. A. Naisyah T. Azikin M.Kes. dan Kol. Inf. Arfin Dahlan S. IP. sebagai narasumber.
“Untuk mempercepat penanganan wabah Covid-19 di kota ini saya sangat mengharapkan keterlibatan ulama khususnya dari MUI untuk menjadi garda terdepan di dalam mengedukasi dan memotivasi masyarakat di dalam menyikapi viros corona yang hingga kini belum ada obat dan faksin yang mampu menyembuhkan,” pinta Rudy.


Walikota mengakui, penanganan Covid-19 oleh tim Satgas di daerah ini sebetulnya sudah berjalan dengan baik dan warga masyarakat cukup patuh mengikuti anjuran pemerintah. Hanya saja karena banyaknya isu dan informasi yang tidak jelas sumbernya beredar luas sehingga masyarakat gelisah dan terprovokasi, apalagi kurangnya komunikasi dan keterlibatan pemuka agama, terutama ulama membuat masyarakat makin tertekan dan ketakutan.
“Padahal virus corona ini tidak perlu ditakuti selama kita taat dan disiplin mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Penyakit jantung, stroke dan semacamnya jauh lebih berbahaya dibanding Corvid-19, sehingga ini perlu diperjelas kepada masyarakat bahwa orang meninggal itu bukan penyebab utamanya virus corona tapi penyakit bawaannya,” ungkap Rudy Jamaluddin.
Terkait dengan kondisi wabah Covid-19 yang masih bertambah terus jumlah ODP/PDP sampai saat ini, Walikota mengakui bahwa Satgas Covid-19 tetap melaksanakan tugasnya bahkan dirinya akan melakukan langkah-langkah yang lebih strategis lagi dalam beberapa hari ke depan untuk menekankan jumlah pasien terpapar dengan mengajak seluruh komponen masyarakat hingga ke RT/RW, khususnya dengan ulama-ulama kita dan tokoh agama lainnya yang masih tetap didengar oleh ummat.
“Saya sangat mengharapkan keterlibatan ulama-ulama kita di daerah ini untuk ikut menjadi garda terdepan di dalam mengatasi persoalan wabah Covid-19 ini, tandas Rudy penuh harap.


Kol. Inf. Arfin Dahlan S. IP. Salah satu anggota tim Satgas Covid-19 dari Kodam XIV/Hasanuddin sebagai narasumber dalam menjawab pertanyaan salah seorang peserta mengakui, bahwa penanganan kasus Covid-19 di daerah ini memang membuat semua orang tegang, bukan hanya warga masyarakat awam tapi juga petugas kesehatan dan anggota Satgas karena kita semua baru menghadapi virus semacam ini. Namun diakuinya bahwa saat ini penanganan wabah corona saat ini makin disempurnakan dengan memperhatikan pendekatan agama dan kemanusiaan.
“Jujur saja mereka yang bertugas pada pemelasaran jenazah hanya semata-mata melaksanakan tugas demi NKRI, kita melaksanakan sesuai perintah yang diberlakukan. Kita juga memahami perasaan warga masyarakat yang membuat mereka ketakutan, sehingga kita sudah mengusulkan agar jika sekiranya warga akan dirapid tes tidak perlu menggunakan baju seperti astronot yang membuat mereka ketakutan, ungkap Arfin Dahlan yang disambut tawa peserta.
Diakuinya, bahwa sama dengan anjuran walikota, corona untuk sementara ini hanya mampu dilawan dengan menggunakan masker, rajin cuci tangan, dan menjaga jarak, terutama saat berada di tempat umum.
Kadis Kesehatan Kota Makassar Dr. Hj. A. Naisyah T. Azikin M.Kes. dalam memaparkan data-data penyebaran Covid-19 di Kota Makassar diantaranya menyebutkan, bahwa sebetulnya warga masyarakat kita cukup patuh melaksanakan protokol kesehatan, terutama menggunakan masker, hanya saja lantaran lebih banyak hoax atau informasi yang tidak jelas dari belahan dunia sehingga tidak sedikit warga masyarakat yang terpengaruh.
“Salah satu fakta yang kita miliki adalah pasien yang terpapar setiap hari dan menyebabkan jumlahnya bertambah terus berasal dari perumahan elit di Kota Makasar terutama di wilayah Rappocini, Tamalate, Panakkukang,” ungkapnya.
Terkait dengan pelaksanaan ravid tes gratis yang dilakukan secara masif untuk mempercepat memutus jalur Covid-19, Naisyah Azikin mengakui bahwa sebetulnya sudah berjalan lancar dan tidak ada penolakan. Nanti setelah ditujukan kepada kelurahan lain yang selama ini zona hijau, tiba-tiba merasa ketakutan warganya dan termakanlah provokasi dari orang-orang yang juga ketakutan. (jurlan)

BAGIKAN
Berita sebelumyaAwali Bimtek Verfak PPS, Komisioner KPU Paparkan Revisi PKPU Pencalonan
Berita berikutnyaPertamina Peduli Salurkan Bantuan Korban Longsor di Jalan Trans Sulawesi Palopo-Toraja
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here