Makassar, Inspirasimakassar.com :

Ada pemandangan yang tak biasa di halaman eks Fakultas Teknik Unhas Tamalanrea sejak 9-16 Desember 2019. Sekitar 78 fotografer memajang sedikitnya 200 helai karya foto mereka, yang sebagian berada di antara pepohonan. Inilah cara para peserta Unit Kegiatan Mahasiswa

(UKM) Fotografi Unhas dan juga alumninya, mengekspresikan hasil karyanya.

Sebagai salah seorang peminat fotografi, saya selalu menyempatkan diri menyambangi lokasi pameran foto seperti ini. Sama ketika pada tahun 2000 ada pameran fotografi di Surabaya yang memajang foto-foto pilihan (juara) se-jagat pada tahun itu, saya meluangkan waktu datang

menengoknya. Sebuah buku yang berisi foto-foto juara yang sedang dipajang, saya langsung beli dan kini ikut menghuni lemari perpustakaan pribadi di rumah. Begitu pun dengan pameran foto di Makassar, khususnya di Unhas.

Sebagai seorang jurnalis yang kebetulan juga selalu memegang kamera ketika meliput, saya menikmati karya-karya foto seperti ini. Ketertarikan terhadap foto seni atau foto jurnalistik bermula dan dipicu oleh satu foto yang dimuat di Harian “Kompas”, kira-kira pada tahun 1972 atau 1973. Hari itu, seperti biasa, jika tidak ada kuliah di Fakultas Sastra Unhas Jl.Sunu, sayamenyempatkan diri menyambangi Perpustakaan Pusat Unhas yang ada di sebelah selatan gedung fakultas.

Perpustakaan Pusat Unhas ketika itu dinakodai Drs.Rahman Rahim (Prof.Dr. kemudian dan sudah almarhum) yang juga dosen Fakultas Sastra Unhas. Selain mengajar, beliau juga kerap didaulat sebagai khatib di Masjid Ujung Pandang Baru atau masjid-masjid lainnya. Beliau memang tinggal di wilayah kompleks perumahan yang dibangun pada masa H.M.Dg.Patompo memimpin Kota Madya Makassar yang kemudian berganti nama menjadi Ujungpandang (1971).

Pengunjung perpustakaan tidak sepadat sekarang, karena di setiap fakultas juga punya perpustakaan sendiri. Saya pun tidak perlu berdesakan menemukan bahan bacaan, terutama koran. Yang selalu saya sasar adalah “Kompas”.

Waktu itu, belum tumbuh mekar benih-benih dalam diri saya menjadi seorang jurnalis. Rasanya, masih mencari dan menemukan jalan ke arah sana. Sekadar menunaikan mimpi menjadi penyiar radio gara-gara sering mendengar siaran RRI Nusantara IV Makassar dan Radio Australia Seksi Indonesia dari Melbourne.

Surat kabar selalu menjadi sasaran pertama jika masuk ke perpustakaan. Membaca berita yang tentu saja sudah berlalu beberapa hari. Setelah membolak-balik halaman koran nasional berpengaruh itu, mata saya terhenti pada sebuah foto dengan keterangan (“caption”) pendek yang menyentak.

Foto itu dijepret tidak jauh dari satu pantai. Sekitar puluhan meter dari pantai, berdiri seorang pria yang sedang memancing. Kepalanya mengenakan tutup saji (topi petani). Ketinggian air laut di tempat lelaki itu berdiri mencapai pinggangnya. Dia “khusyu’” sekali memancing, sementara di belakangnya, tampak seekor anjing yang setia “menongkrongi”-nya menemani majikannya menunggu pancingnya disambar ikan. Sang fotografer yang saya lupa dan tidak ingat namanya memberi keterangan fotonya dengan frasa “Mengikuti tuannya..!”.

Pemandangan dan keterangan foto yang begitu dahsyat tersebut, kemudian menginspirasi saya dalam “memperlakukan” foto-foto sejenis ini di kemudian hari, ketika menjadi peminat fotografi. Terutama ketika akan memberinya “caption” pendek terhadap sebuah foto yang unik dan langka.

Frasa “Mengikuti tuannya…” yang dilabelkan pada foto itu benar-benar spektakuler makna dan improvisatif dan konotatif. Ada ruang bagi saya dan mungkin juga penikmat fotografi lainnya berpikir dan sejenak merenung tentang kaitan rasa batin antara objek dengan keterangan foto. Relasi tersembunyi antara pemandangan foto dan katerangannya.

Yang saya tangkap dari suasana foto ini dengan keterangan seperti itu adalah, betapa kesetiaan seekor anjing pada majikannya, sehingga dia tidak peduli kondisi alam yang dihadapinya (dalamnya air yang membuat anjing itu harus terus ‘menggoyang-goyangkan’ kakinya agar tidak tenggelam). Dia tetap memilih berada tidak jauh dari tuannya. Tidak memilih “baring-baring”santai dan tertidur di bawah pohon di tepi pantai sambil menunggu tuannya selesai memancing dan memperoleh ikan.

Mungkin juga si anjing berpikir, kehadirannya begitu dekat dengan tuannya merupakan tindakan berjaga-jaga jangan sampai tuannya mengalami sesuatu yang tidak terduga. Kecelakaan misalnya. Bukankah sering membaca di media cetak dan daring serta menyaksikan di layar kacakisah hewan piaraan yang menyelamatkan majikannya dalam suatu musibah?

Dari foto ini saya memperoleh pelajaran yang berharga. Yakni, betapa sebuah keterangan foto seni atau foto “feature” tidak boleh menelanjangi dan membongkar misteri yang ada di balik keunikan dan kemisterian foto. Kita harus memberi “pekerjaan” kepada penikmat foto berpikir dan berimajinasi menemukan, apa hubungan atau relasi antara foto dengan keterangannya.

Ketika sebuah foto diberi keterangan yang ternyata kemudian menuntun atau membuka misterinya, itu sama saja dengan membuat foto tersebut menjadi berkurang daya kejut keunikan dan penasarannya buat penikmat. Keterangan foto harus “berlindung” dan tersembunyi di balik foto, bukan menjadi penjelas keunikan foto tersebut. Tugas penikmatlah untuk menemukan dan mencari hubungan foto dengan keterangannya yang “bersembunyi” di balik diksi yang dipilih.

Kembali ke Pameran Foto UKM Fotografi Unhas di Kampus Tamalanrea. Saya sangat bangga dan kagum dengan karya-karya yang dihasilkan. Hasil jepretan pada fotografer begitu dahsyat dan spektakuler.

Sebagai seorang penikmat fotografi, menyaksikan hasil karya foto seperti ini yang terlintas di dalam benak saya adalah, betapa mereka (para fotografer) telah menghasilkan karyanya melalui kerja-kerja luar biasa dan intens.

Mereka begitu jeli, sabar, dan tabah menanti dan menunggu momen yang tepat untuk menekan “tombol” kameranya guna menghasilkan gambar yang sangat dahsyat itu.

Foto-foto yang dipajang ini merupakan karya yang sangat layak dipajang di ruang-ruang tamu rumah gedongan. Atau juga di atas meja kantor para bos instansi. Foto-foto ini akan menjadi objek pertama mata mereka yang senang fotografi jika bertandang ke tempat-tempat yang memajang foto-foto tersebut. Selembar foto akan mewakili kisah 1.000 kata di baliknya.

Objek foto mereka adalah, fenomena alam dan potret sosial yang sebenarnya merupakan rutinitas keseharian, namun hanya mampu dibidik oleh kejelian seorang fotografer. Fotografer adalah seorang seniman yang menggunakan instink dan rasa guna melihat sesuatu yang terkadang tidakterekam pandangan dan potret oleh orang yang bukan seorang fotografer.

Komunitas ini adalah kelompok yang mampu melihat hal yang biasa menjadi luar biasa di balik kameranya. Sebagaimana adagium yang berbunyi, pada selembar foto yang “berbicara” merupakan representasi dari 1.000 kata.

Berdasarkan hasil pengamatan saya secara selintas saat berkunjung ke lokasi pameran, titik lemah dari para fotografer adalah bagaimana menemukan keterangan foto yang jika dikaitkan dengan objek foto dapat membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya dan penasaran.

Bertanya- tanya karena ingin mencari tahu apa hubungan antara foto dengan keterangannya. Menurut saya, foto yang membuat penasaran penikmat, setidak-tidaknya beberapa saat, justru merupakan karya yang sangat melengkapi keberhasilan melahirkan gambar yang sangat luar biasa.  Oleh sebab itu, ketika ada karya foto yang diberi keterangan “lugu” dan membongkar misteri foto, tentu akan mengurangi daya kejut dan penasaran karya itu bagi para penikmat.

Sekadar contoh saja, ada satu foto yang dijepret pada sore hari di pinggir pantai dan memperlihatkan beberapa orang sedang berada di sana. Foto ini diambil dari arah darat karena ingin menonjolkan pemandangan suasana merah dengan gambar siluet tiga orang yang terlihat gelap. Foto ini menarik, karena di antara anak kecil dan seorang yang bertubuh tinggi, tampak nun jauh di ufuk barat mentari siap-siap tenggelam. Anak kecil itu tampak bagaikan sedang menari ditilik dari gerak tangannya. Pemotret pun memberi keterangan foto ini “Bermain dan Menari Bersama Mentari”.

 Sebenarnya, keterangan foto merupakan kewenangan yang sangat individual dan personal dari pemotretnya itu sendiri. Namun karena sebuah karya foto mengusung nilai seni yang universal, sehingga setiap orang boleh memberikan penafsiran berbeda-beda. Tergantung dari sudut mana dia melihatnya.

Fotografer pun bebas memilih aspek apa yang dia ingintonjolkan. Namun foto ini menurut saya cenderung sedikit mengurangi kadar sentak peminat. Jika saya boleh tawarkan, melihat suasana foto seperti ini, mungkin judul atau keterangan foto yang sedikit ‘menyengat’ adalah “Ritual Senja.”.

“Ritual Senja” menggambarkan bahwa situasi seperti yang dijepret fotografer ini merupakan fenomena yang setiap hari bisa terjadi, kecuali ada gangguan awan “nakal” yang tiba-tiba muncul. Mata hari menjelang terbenam selalu menawarkan pemandangan yang indah, terutama dengan semburan cahaya merah yang memesona.

Tentu saja istilah “ritual” ini tidak diarahkan kepada tiga gambar siluet yang jadi latar. Foto yang siluet itu merupakan asesoris yang mendukung dan memerkaya keterangan foto. Oleh sebab itu, banyak fotografer yang menunggu saat-saat seperti ini. Apalagi kalau dilatarbelakangi oleh ada orang yang beraktivitas.

Katakanlah sedang bermain bola di tepi pantai. Wow, dahsyat “banget”. Tanpa bermaksud “membedah” orisinalitas srlembat foto, proses menghasilkan suatu foto yang spektakuler terkadang juga sudah divirusiunsur rekayasa.

Pada tahun 1981, ketika mengikuti Porseni Mahasiswa Tingkat Nasional di Jakarta karena foto saya memenangkan lomba tingkat wilayah di Manado, dalam suatu pameran foto peserta, terpilih pemenangnya dari salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Fotonya memperlihatkan kepaladan badan seorang perempuan tiba-tiba nongol pada sebuah lubang di antara jejeran rak buku.

Kita ketahui rak buku itu tidak pernah ada yang kosong dari buku. Foto ini jelas menimbulkan pertanyaan dari segi orisinalitasnya. Mengapa ada lubang pada sebuah rak buku yang umum diketahui sarat dengan pajangan buku?

Simpulannya, menurut saya yang menganalisis keotentikan suatu foto, lubang itu sengaja dibuat guna memberi ruang kepada tubuh perempuan bersandar dan sambil memegang serta membaca buku. Foto ini memangkontras dan menarik karena kemunculan kepala dan sepotong badan perempuan yang bersandar di antara jejeran buku. Saya menilai pemotret berhasil memproduksi karya yang memesona, meski bagi saya tersentak hanya sesaat. Ya, karena adanya kecurigaan bahwa foto tersebut merupakan hasil rekayasa.

Sekarang ini seni manipulasi foto sangat terbantu oleh keterlibatan software foto. Ketika Porseni Mahasiswa 1981 itu, jelas belum ada campurtangan “software” seperti ini. Tetapi sekarang, bisa saja dilakukan. Namun  motor. Tetapi bagi seorang yang mempelajari tanda ada pesan terselubung dari foto ini.

Boleh jadi, pesannya penumpang perahu motor perlu “ditertibkan” agar tidak terjadi musibah di kemudian waktu akibat kendaraan laut ini kelebihan penumpang. Juga ada pesan, perlu diperbanyak armada sejenis ini untuk warga pulau agar tidak berdesakan. Ketiga, perlu pengawasan pihak terkait dalam hubungannya dengan transportasi laut ini.

Ya, begitulah pesan selembar foto yang mewakili 1.000 kata tadi. Apa pun kekurangan dan kelemahannya, karya-karya ini telah hadir ikut memperkaya khasanah produk kreativitas komunitas fotografer yang terus bekerja dengan rasa dan hati tanpa henti. Selamat !!!!. (dahlan abubakar).

BAGIKAN
Berita sebelumyaUnpacti Makassar Atur Strategi “Penjemputan” Maba 2020
Berita berikutnyaSales Marketing Hotel Harper Sunting Sales Marketing Hotel Claro
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here