INSPIRASI-MAKASSAR.COM, TORAJA – Keragaman budaya, serta sumber daya alam yang melimpah menjadi kombinasi, sekaligus menjadi destinasi wisata yang tidak akan pernah habis untuk dijelajahi. Salah satunya Tana Toraja di Sulawesi Selatan.Daerah ini dihuni Suku Toraja yang mendiami pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas, sekaligus salah satu tempat terindah di Indonesia yang menyimpan daya magis dalam kultur extravaganza. Daerah ini juga memiliki bebatuan megalitik.
Disini, di Tana Toraja ini ada negeri diatas awan. Disini ada makam goa purba di Londa. Ada menhir di Rante Karassik, hingga perkampungan Ke’te Kesu yang begitu unik. Semuanya terpeliharanya dalam bingkai adat dan budaya yang terpelihara baik. Masyarakatnya sangat menghormati leluhur dengan tetap menjaga eksistensi pekuburannya. Daya tariknya begitu mempesona. Mereka memiliki budaya hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka memiliki adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni yang begitu indah.
Tak salah, jika saya ke sini untuk kesekian kalinya. Pertama, saat praktek lapang mahasiswa jurusan Agronomi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali Ujungpandang-kini Universitas Islam Makassar (UIM) di kebun kopi. Kedua dan ketiga, ketika mengikuti kunjungan HZB Palaguna saat menjadi gubernur Sulawesi Selatan, beberapa tahun silam. Dan, pada Minggu, 1 Oktober 2016, saya kesini lagi bersama saudara perempuan yang kini menetap di Belanda, Hj.Aisja Pattisahusiwa dan suaminya, H.Ismael Rene Ririn.

Ketika masih di Belanda, Hj.Aisa Pattisahusiwa memberi pesan melalui WA. Berbunyi, Din, tanggal 30 September saya ke Makassar. Saya pun menjawab, apakah ke Malili? “Tidak,” jawabnya. Mengapa pertanyaan saya ke Malili, tidak lain karena tahun 1940-an, ayah suaminya pernah menetap di ibukota Luwu Timur tersebut. Ahmad Ririn yang beristrikan Kambe. Orang tuanya ini memiliki dua anak, Djoeniar yang lahir tahun 1947 dan Bachtiar yang lahir tahun 1948. “Kami tidak ke Malili. Tapi ke Toraja, tetapi sebelumnya ke Ambon untuk mengunjungi keluarga di Desa Siri Sori Islam, Saparua” tambahnya dalam WA.

Di Makassar, suami istri beranak tiga orang ini memilih Hotel Sheraton. Di hotel mewah ini, keduanya menempati kamar nomor 5015, di lantai 5. Kami sempat berkeliling, melihat suasana Kota Daeng ini. Sempat pula kami menikmati ikan bakar di Jalan Pattimura. “Ikannya gurih, lezat, dan enak,” tutur Ais—sapaan puteri pasangan H Usmane Pattisahusiwa dan Hj Neila Pelupessy (alm) ini, sambil melirik suaminya.

Sebelum kembali ke hotel, kami jalan kaki, hingga ke Jalan Penghibur. Di salah satu toko penjualan oleh-oleh khas Toraja, kami masuk. Ais sempat membeli minyak gosok, Tawon-pesanan dari adik sepupunya, Hj.Banuna Pelupessy—yang juga menetap di negeri Kincir Angin itu.

Kami jalan kembali. Kali ini ke Pantai Losari. Kami berkeliling, dan sempat berfoto di pantai tak berpasir ini. Kami juga mampir di penjual minuman ringan. Saya memilih avokad. Enak dan nikmat. Sementara Ais dan suaminya memilih kopi. Ada juga yang minum es jeruk, dan lainnya. Harga minuman disini cukup terjangkau.

Keesokan harinya, Minggu, 1 Oktober, tepat pukul 07.30 WIT, saya dan supir tiba di Hotel Sheraton. Kami bertolak ke Toraja, menggunakan transportasi darat. Jalan Tol Reformasi kami lewati, tembus Maros. Saya sempat mempromosikan Roti Maros. Mereka tertarik. Dan, saya membeli dua bungkus roti dan anggur satu kantong.

Mobil Avanza warna putih yang dikemudikan Baso—tetangga saya di Kompleks Anggrek Taman Rianvina Minasaupa. Dia memilih rute, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Enrekang, hingga masuk Tana Toraja. Kami sempat mampir di salah satu desa sebelum memasuki Kota Enrekang. Di situ, kami sempat berfoto, sambil makan roti Maros dan anggur. Tiba di Enrekang perut mulai keroncongan. Kami mencari rumah makan.

Tiba di Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, kami mampir sementara untuk membidik keindahan gunung yang berada di sisi kanan. Namanya gunung Nona. Gunung ‘erotis’ yang tak pernah bosan dipandangi wisatawan. “Gunung Nona,” Tanya Ais.

Masyarakat disini menyebut Gunung Nona dengan sebutan Buttu Kabobong. Tidak lain, karena bentuknya menyerupai organ vital wanita. Kami mengambil posisi di Vila Bambapuang yang terletak tepat berhadapan dengan gunung. Dari tempat ini kami menyaksikan keindahan gunung, yang dipercaya merupakan tangga penghubung ke langit oleh para leluhur.

Seperti keberadaan gunung Tangkuban Perahu yang menyisakan legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi di Jawa Barat, beberapa gunung lainnya di belahan dunia manapun biasanya mempunyai legenda yang berkaitan dengan kepercayaan-kepercayaan tertentu. Begitu pula dengan legenda terbentuknya gunung Nona ini.

Konon, dulu, kerajaan di Soppeng yang makmur, karena dipimpin raja yang bijak dan arif. Raja ini memiliki puteri semata wayang. Dia hendak dinikahkan dengan seorang pangeran dari kerajaan Suppa. Namun putrinya tak setuju, lantaran belum mengenal calon suaminya.

Sang putri kabur dan bertemu seorang laki-laki bernama Tandu Mataranna Enrekang Laki Barakkanna Puang. Akhir ceritra, perempuan ini ditebas hingga menjadi dua oleh seseorang. Bagian perut hingga kepala hanyut ke sungai, sedangkan perut hingga kaki tetap berada di daerah Anggeraja. Konon tubuh itulah yang kini menjadi gunung Nona. Mitos dan legenda lain, yang diyakini masyarakat setempat, gunung ini adalah tempat dimana pemerintahan dan peradaban manusia di Sulawesi Selatan, bermula. Ada pula legenda lain terbentuknya gunung ini.

Disini kita dapat melihat pemandangan alam yang mengesankan. Disini, kita bisa melihat indahnya pegunungan seakan berbaris. Indah bukit-bukit. Juga kesejukan dan kesegaran sungai bisa dilihat dari kejauhan. Selain itu, pada sisi lain, gunung yang berada di ketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut dapat melihat matahari terbenam, dan keindahan lainnya adalah flora dan fauna seperti monyet, kerbau ,rusa dan juga anggrek ya (bersambung)mg tumbuh. Disini pula kita sembari bersantai menyaksikan pemandangan alam yang dibentangkan oleh sang pencipta.