kebun-7

Komunitas Makassar Berkebun dimulai pada pertengahan 2011. Saat itu, sekelompok orang yang resah akan kondisi lingkungan Makassar yang sudah tidak kondusif. Dalam berbagai diskusi ideUrban Farming, untuk Kota Makassar di jejaring sosial Twitter, mereka kemudian menyatukan tekad membentuk komunitas ini.

Komunitas Makassar berkebun juga tidak terlepas dari, komunitas sebelumnya bernama Indonesia Berkebun, sukses mengadaptasi konsep ini di 19 kota besar dan 1 kampus di Indonesia. Makassar Berkebun kemudian mengaplikasikan konsep Indonesia Berkebun. Ternyata, konsep ini juga mendapat tanggapan positif dari masyarakat perkotaan.

Hal ini menjadi para penggiat Makassar Berkebun, sehingga disepakati untuk membahas teknis pelaksanaannya. Tanggal 11 Oktober 2011 pun menjadi hari bersejarah bagi komunitas ini dengan slogan “Daeng, Mari ki’ Hijaukan Makassar Parasangan ta”.  Makassar Berkebun resmi berdiri.

Mengapa berkebun ditengah kota?  Secara edukasi memberikan pendidikan ke publik terutama generasi mendatang untuk cinta lingkungan. Sebab, kota-kota besar tidak lagi mempunyai ruangan hijau yang cukup bagi warganya, terutama untuk anak-anak.  Lahan terbuka yang tidak terpakai biasanya menjadi tempat pembuangan sampah, sehingga menjadi sumber penyakit.

Belum ada contoh atau prototipe pemanfaatan lahan terbuka yang dapat berguna untuk masyarakat sekitar.   Belum ada bright idea yang menjadi social movement yang signifikan dan sustainable.  Lahan berkebun ini pinjaman dari Yayasan Kesehatan PT Telkom Makassar, seluas 30 are, terletak di tengah kota, tepat bersebelahan dengan Hotel Clarion. Rencananya mereka menambah luas lahan tanam, dengan sasaran daerah-daerah padat.

Pada akhir September 2013, puluhan anak dari SD Cendekia School, sibuk menanam dan panen bersama. Mereka belajar cara bertani, sekaligus menjaga lingkungan. Lahan tanam pun berada di tengah Kota Makassar, di samping sebuah hotel. Ini merupakan salah satu kegiatan komunitas Makassar Berkebun.

Anak-anak ini berasal dari orang tua kalangan menengah ke atas yang selalu berusaha mengajarkan hidup hemat, sehat dan peduli lingkungan sekitar.

Wahyuddin Mas’ud, Koordinator Makassar Berkebun, mengatakan, kebanyakan anggota komunitas bergerak melalui jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Tujuan mereka menyebarkan semangat positif lebih peduli lingkungan dan perkotaan dengan urban farming. Yakni, memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan menjadi lahan pertanian dan kebun produktif.

Komunitas ini berawal dari gerakan nasional Indonesia Berkebun pada 2011, dengan anggota sebagian besar mahasiswa. Keanggotaan pun meluas. Jika dulu, mayoritas mahasiswa, kini banyak kelompok masyarakat, mulai dari mahasiswa, dokter, PNS, aktivis lingkungan hingga ibu-ibu rumah tangga. “Dari sekitar 80 anggota, hanya sebagian kecil berlatar belakang pertanian. Lainnya tak paham pertanian sama sekali. Mereka bergabung setelah melihat aktivitas kami di Facebook dan Twitter.”

Karena banyak dari kalangan profesional, Makassar Berkebun pun dilakukan hanya pada hari libur, khusus Sabtu dan Minggu. Kegiatan pun beragam, mulai pembelajaran bertani, hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah.Mereka juga memberi pelatihan bertani kepada kelompok-kelompok swasta, pensiunan, ibu rumah tangga dan siswa sekolah, mulai dari TK hingga SMA. Jenis tanaman yang digunakan kebanyakan sayuran berumur pendek, seperti selada, ketimun, sawi, tomat, dan cabai. Tanaman tanpa pestisida.

Aktivitas Makassar Berkebun sejak Agustus 2013 didukung Yayasan Kesehatan Telkom Makassar. Yayasan ini menyediakan lahan, dan menyiapkan bibit tanaman. Mereka juga mengumpulkan dana dengan menjual aksesori-aksesori komunitas ini. Hasil penjualann untuk pembiayaan kegiatan dan pembelian peralatan serta bahan-bahan tanam.

Mardiana dari Yayasan Kesehatan Telkom Makassar, sangat senang dengan keberadaan komunitas ini. Dia berharap kerjasama ini selamanya. Kami punya banyak rencana ke depan. Termasuk penambahan lahan demplot. Kami berupaya mengajarkan cara berkebun kepada karyawan dan pensiunan Telkom untuk mengisi waktu luang mereka.

Kini mereka mempersiapkan program Akademi Berkebun, yaitu sekolah berkebun peserta 20 orang. Fokusnya, cara bertanam melalui teknik vertikultur, menggunakan medium pipa dan bambu.“Siapa pun bisa ikut dan tanpa bayaran. Pembelajaran tiap Sabtu dan Minggu.”

Lewat sebuah pertanyaan yang menggelitik dari salah asatu penggiat Jakarta Berkebun yang sempat berdomisili di Makassar, beberapa tahun silam. Pertanyaan Mba Indri Seska yang lebih akrab disapa Kakak Indri itu ditujukan ke akun twitter @supirpete2. “Kenapa Makassar, yang katanya kota ke-4 terbesar di Indonesia, belum ada komunitas berkebun di Kotanya?”, seperti itu nada cuitan yang dikutip dari buku Urban farming ala Indonesia Berkebun. Pada waktu itu, twitter memang merupakan media sosial yang efektif untuk berkampanye, atau pun menarik perhatian massa yang cepat.

Atas inisiatif Indri, gathering pertama pun dilaksanakan. Adalah pemilik akun @supirpete2, @mksrtdkksr, Ashari Ramadhan, Keyka Samsoe, Wahwu Mas’ud, Indah Ain, Rezky IPWP, dan Firmansyah Rasyid, itu yang saya ingat menjadi aktor pertemuan pada tanggal 11 Oktober 2011. Tanggal ini pula lah yang kemudian menjadi titik awal lahirnya Makassar Berkebun, menyusul kota-kota lain menjadi bagian dari keluarga Indonesia Berkebun. Dalam pertemuan itu, Wahyu Mas’ud disepakati sebagai koordinator pertama @MksrBerkebun (akun twitter Makassar Berkebun). (*)

BAGIKAN
Berita sebelumyaSepeda Unik dari Bambu Tembus Amerika dan Eropa
Berita berikutnyaBisnis Dangke Enrekang Antar Anak Sunusi Raih Dokter di Bali
Journalist Inspirasi Makassar. Lahir di Kutai Kartanegara, 25 Juli 1972. Studi SD hingga SMP (MTs As'adiyah) diselesaikan di sebuah desa penghasil batu bara, Santan Tengah, kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Menyelesaikan S1 di Fakultas Teknik Elektro, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Februari tahun 1999. Sementara pendidikan menengah atas ditempuh di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Watampone, Bone, Sulawesi Selatan. Mantan wartawan harian Fajar Makassar, penyiar dan reporter di radio berita Independen Fm serta kontributor Radio Berita 68H Jakarta.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here