(Catatan buat Rudi Djamaluddin, Pj Wali Kota Makassar)

“Kepemimpinan yang baik adalah mengajari orang-orang biasa agar dapat melakukan pekerjaan orang-orang luar biasa” (John D’Rockefeller). 

Masalah kepemimpinan menjadi wacana yang viral pekan terakhir ini, menyusul pemberhentian  Prof.Dr.Yusran Yusuf, MP yang baru saja 43 hari dilantik sebagai Penjabat Wali Kota Makassar. Gubernur Sulawesi Selatan M.Nurdin Abdullah melantik Prof.Ir.Rudy Djamaluddin, Ph.D., yang belum lama juga dilantik sebagai Kepala Dinas PU Sulawesi Selatan mengisi jabatan yang ditinggalkan mantan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin tersebut.
Jika mengaitkan apa yang dikemukakan Rockefeller yang saya kutip di awal tulisan dengan kondisi kepemimpinan di Pemerintah Kota Makassar hingga terjadinya pergantian penjabat itu, jelas tidak pada tempatnya. Tetapi paling tidak dalam beberapa bulan ke depan, Rudy Djamaluddin harus mengubah pandangan orang bahwa dia mampu melakukan sesuatu. Paling tidak dia mampu berpikiran luar biasa untuk mengubah pemahaman orang yang dijadikan dalih pergantian jabatan tersebut.
Sebenarnya saya malas berkomentar untuk urusan seperti ini, tapi kemudian terpicu oleh isu sentral yang dihadapi Kota Makassar saat ini, yakni pencegahan kian menggilanya Covid-19 yang dianggap sebagai pemicu pergantian penjabat tersebut. Terus terang kita akui, jika kemudian Sulawesi Selatan meraih predikat terbaik yang tidak nyaman dalam prestasi “zona hitam” Covid-19, itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua aktivitas yang sudah dianggap tidak mendukung  pencegahan pandemi ini, pernah terjadi di Makassar. Warga yang mengambil mayat terindikasi Covid-19 di rumah sakit, penolakan rapid test, penolakan pemakaman di pemakaman Covid-19, pernah terjadi dan tayang di layar kaca nasional. 
Ketidakdisiplinan seperti ini menjadi indikator utama yang menggiring jumlah pasien positif Covid-19 di Sulawesi Selatan selalu masuk lima terbaik. Belum lagi kepedulian dan disiplin warga mematuhi imbauan pemerintah tentang perlunya pakai masker, jaga jarak, tidak berkerumun, dan sebagainya. Realitas seperti ini menjadi penyumbang terbesar bagi prestasi tidak nyaman Sulsel bagi pencegahan Covid-19.

Melihat Makassar

Sejak 28 Maret hingga 26 Juni 2020, setelah adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Makassar dan rentetan imbauan yang mengiringinya, saya baru tiga kali “memberanikan diri” menunaikan salat Jumat di Masjid Amirul Mukminin Kompleks Unhas Biringromang Manggala Makassar.  Saya berprinsip lebih baik mencegah daripada “keduluan” terpapar Covid-19.

Contoh berikut ini menggambarkan kepedualian panitia masjid dan perilaku warga yang datang salat Jumat layak menjadi indikator sementara bagi aktivitas serupa di beberapa masjid lainnya di Makassar. Karena saya anggap, masjid ini berada di kompleks perumahan orang-orang kampus yang tentu saja educated (berpendidikan). Jadi paling tidak berkaian dengan pemahaman terhadap imbauan pemerintah tersebut pastilah mengerti dan dipatuhi.
Pada tanggal 12 Juni saya datang salat Jumat pertama kali setelah “lock down”. Di depan pintu masjid tidak ada apa-apa yang mengindikasikan bahwa rumah ibadah ini juga ikut mengemban amanah terhadap imbauan pemerintah dalam kaitan pencegahan penularan Covid-19. Ruang cuci tangan dengan sabun atau orang yang menyediakan “hand sanitizer” tidak ada. Apalagi pengukur suhu.
Pintu masuk masjid yang berpendingin ruangan itu memang terbuka. Ini saya anggap satu-satunya upaya pencegahan Covid-19 terhadap kemungkinan adanya virus yang menempel di besi yang dijadikan pegangan mendorong atau menarik pintu tersebut.
Tidak ada siapa pun yang sekadar mengingatkan jamaah yang datang harus mengenakan masker. Setiap orang yang bermasker terlebih lagi yang yang tidak, pakai masker masuk saja ke ruang masjid. Saya sangat iri dengan cerita salah seorang teman yang menceritakan panitia masjid yang berdiri di pintu pada saat salat Jumat. Tugasnya, mencegah orang yang tidak bermasker dan menyuruhnya pulang mencari masker. Di masjid di kompleks tempat tinggal saya, boro-boro ada panitia masjid yang seperti itu, ketua panitia masjidnya saja tidak pakai masker.
Saya hari itu (12 Juni) sengaja mengambil tempat salat di emper utara masjid yang biasanya satu saf berisi maksimal tiga orang. Itu sudah rapat sekali. Belum lama duduk selagi khatib berceramah di mimbar tanpa sedikit pun mengait-ngaitkan keimanan, kesehatan, dan kehidupan bermasyarakat dengan Covid-19, seorang anak muda langsung mengambil tempat di sebelah kanan saya. Tidak bermasker pula. Saat salat Jumat mau dimulai, jamaah yang terlambat pun tak peduli lagi dengan jaga jarak langsung memenuhi saf pendek. Betul-betul tidak ada kepedulian.
Tanggal 19 Juni kali kedua saya salat Jumat. Kali ini saya ambil saf kelima dan duduk nyaris mepet di dinding sebelah kanan. Menyisakan sedikit ruang kosong di dekat dinding, sekadar berjaga-jaga jika saat salat dimulai, jamaah lupa jaga jarak dan mepet rapat. Pada saf kedua, tiga orang duduk tanpa jaga jarak dan tanpa pakai masker. Miris benar.
Seperti biasa, sebelum khatib naik mimbar, didahului dengan pengumuman kondisi kas keungan masjid. Ketua panitia masjid mengenakan jubah putih dengan kopiah hitam menyambar mikropon berdiri menghadap ke jamaah tanpa mengenakan masker. Padahal, dia akan berbicara dengan banyak orang dan peluang menerbangkan “droplet” (rintik) ke jamaah di depannya sangat besar. Apalagi dibantu oleh udara pendingin ruangan dari arah belakangnya.
Khatib pun naik ke mimbar, juga tanpa mengenakan masker. Saya kembali bertanya, apakah masker ini memang berlaku diskriminatif? Kok dalam dua kali salat Jumat (dengan 25 Juni) yang saya ikuti, khatib tidak pernah mengenakan masker.
Kali ketiga saya ikut salat Jumat, situasinya sama. Ketua panitia masjid, khatib, dan beberapa jamaah yang tidak mengenakan masker, cukup bagi saya mencoret uneg-uneg ini untuk memotret situasi dan kondisi pelaksanaan peribadatan di rumah ibadah di saat pandemi Covid-19 ini.

Perlu Pengawasan

Jika akhir-akhir ini perkembangan jumlah warga yang positif  Covid-19 terus meningkat, memang tidak mengherankan karena begitulah bentuk kepedulian warga kita menyikap kondisi darurat kesehatan ini.  Hingga Sabtu (27/6/2020) Sulawesi Selatan masih menempati urutan “terhormat” sebagai peraih predikat tertinggi dalam hal jumlah penderita Covid-19 ini. Dari 1.385 kasus positif baru, Sulsel menyumbangkan 146 pasien positif Covid-19 dalam 24 jam terakhir ini dan menempati peringkat ke-4. 

Jika masjid di tempat saya yang notabene dihuni oleh orang-orang yang berpendidikan saja seperti itu cueknya, bagaimana dengan di tempat-tempat lain? Jadi, saya sekarang siapa pun – malaikat sekalipun – yang memimpin Kota Makassar jika tidak ada pengawasan ke bawah, tetap tidak akan pernah mampu menekan jumlah orang yang positif Covid-19 ini. Padahal, masjid ini berada di wilayah kecamatan dan kelurahan yang terbilang menempati peringkat teratas dalam hal pasien positif Covid-19.
Saya sarankan, sebaiknya di setiap tempat ibadah perlu ada pengawasan yang dilakukan anggota tim Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 yang bertugas mengingatkan warga dan jamaah yang datang agar mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Susah kita harapkan panitia masjid, sebab di masjid saya justru mereka yang cuek dengan protokol kesehatan Covid-19. Penjabat Wali Kota juga harus mengeluarkan imbauan ke seluruh panitia masjid agar menaati protokol kesehatan Covid-19. Jangan sampai tempat ibadah jadi kluster baru Covid-19 di Kota Makassar sehingga kita harus cegah.
Setelah saya sudah berani ke kantor (olahraga) menyaksikan di Pasar Antang tidak ada petugas berjaga-jaga dan mengingatkan warga yang berbelanja agar tetap menjaga jarak. Saya tidak tahu apakah petugas Gugus Tugas yang berjaga di pasar seperti di tayangan TV hanya sebatas untuk kepentingan sosialisasi atau tidak.
Saya melihat greget pencegahan Covid-19 di Kota Makassar sepertinya adem-adem saja. Pemandangannya sama sekali tidak memperlihatkan ada kesibukan lapangan yang luar biasa dan menandai bahwa memang upaya pencegahan pandemi ini terus berjalan. Kegiatan yang dilakukan masih cenderung seremonial belaka. Warga hanya hapal mati ketika ambulans yang sirenenya meraung-raung bergerak dengan kecepatan tinggi diiringi beberapa kendaraan lainnya pastilah itu korban Covid-19. Kita belum tahu, adakah indikator lain yang menandakan ada kegiatan upaya pencegahan pandemi ini secara masif dan cenderung selalu mengingatkan warga?.
Salah satu pekerjaan berat Rudy Djamaluddin adalah bagaimana memberdayakan Gugus Tugas Covid-19 Kota Makassar mau turun melakukan pengawasan di tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan kerumunan banyak orang. Jika tidak karena alasan terbatasnya jumlah personel, panitia dan pihak yang bertanggung jawab di tempat itu harus diingatkan. Ingat apa yang dikatakan Dwight Eisenhower. “Kepemimpinan adalah seni membuat orang lain mengerjakan sesuatu yang Anda inginkan selesai atas keinginannya sendiri”.
Keberhasilan Penjabat Wali Kota Makassar tolok ukur pertama adalah suksesnya meminimalkan jumlah waga yang positif Covid-19. Karena diakui atau tidak, alih tugas Yusran Yusuf ke Rudy Djamaluddin dilatarbelakangi oleh persoalan Covid-18 ini. Saya tidak tahu, apakah ketika Rudy Djamaluddin juga gagal menangani Covid-19 ini akankah bernasib sama dengan Yusran? Entahlah, kita tunggu saja.
Selamat menjalankan tugas. Wassalam. (M.Dahlan Abubakar).

BAGIKAN
Berita sebelumyaLongsor di Palopo, Pertamina Jamin Pasokan BBM-LPG Aman
Berita berikutnyaAwali Bimtek Verfak PPS, Komisioner KPU Paparkan Revisi PKPU Pencalonan
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here