Foto:ist

Masih bayi, dia sudah bersama dengan Herlina. Kisahnya, ketika orang tuanya menunaikan ibadah haji, Aso dititip di rumah orang tua Lina di Jl. Pongtiku-Ujung Pandang Baru. Saat kembali dari menunaikan ibadah haji, ternyata sang buah hati yang titip tetap dibiarkan tinggal bersama Lina.
“Jadi, dia sejak bayi sudah bersama saya,” cerita Lina, panggilan lulusan Apoteker Unhas ini kepada saya, Rabu (10/3/2021) malam.
Asdar Muis RMS-Herlina pun menikah pada tahun 1995. Saya hadir di pesta pernikahan mereka pada malam hari di Pangkep, sekaligus menyerahkan “piala bergilir” Koran Kampus “Identitas” yang berpindah-pindah sesuai dengan mantan krunya yang menikah.

Beberapa bulan setelah menikah, pengantin baru pindah ke Jakarta dan Aso yang menjadi keluarga pasangan ini sebelum menikah, pun ikut ke Jakarta. Aso yang lahir 1 April 1992, harus memasuki sekolah taman kanak-kanak.

Namun, kegiatan belajar di salah satu TK di Pasar Minggu, sudah berjalan sekitar enam bulan. Aso pun tidak dapat bergabung. Asdar pun dapat akal.“Biar saya bayar yang enam bulan itu asal anak saya bisa masuk,” kata Asdar seperti ditirukan Lina.Namun tidak lama di Pasar Minggu, Asdar yang waktu itu bekerja di Harian “Berita Yudha” Jakarta, pindah kos ke Pondek Gede. Problem baru muncul. Aso tidak mau pindah dari sekolahnya di Pasar Minggu. Asdar dan Lina pun mencari tahu, apa alasan anaknya betah di Pasar Minggu.
“Saya takut dicubit kalau tidak dapat menghafal ayat-ayat pendek di sekolah yang baru,” Aso berdalih.
Apa boleh buat, Aso tetap sekolah di Pasar Minggu dan bersama kedua orang tuanya tinggal di Pondok Gede yang jarak cukup jauh juga. Tidak ada pilihan lain, saban hari Asdar mengantarnya.
Usai tamat TK, Aso masuk di SD Angkasa IV di Jl. Gatotkaca Dirgantara II Halim Perdanakusumah Jakarta Timur, Saat ini sekolah tersebut menyandang akreditasi A. Aso hanya sampai kelas 4 di sekolah ini karena harus pindah ke Makassar.
Kepindahan ke Makassar ini karena Asdar sering sakit. Kakinya bengkak dan rasanya nyeri tidak tertahankan. Guna mengurangi rasa sakit, Asdar menghangatkan kakinya di dekat kompor. Namun, usaha ini tidak juga menolong. Rasa nyerinya tetap bertahan. Dia akhirnya dibawa ke rumah sakit di Tebet. Belum lama di rumah sakit dia minta pulang.
“Lina, naiklah ke kursi roda itu nanti kudorong agar perawat melihat bahwa saya sudah sehat,” kata Asdar mencari siasat agar dibolehkan pulang.Tetapi Lina merasa sulit ide itu dilakukan. Jangankan mendorong dirinya di atas kursi roda, berdiri saja Asdar susah. Ketika dokter melakukan “visite”, Asdar meyakinkan dokter bahwa dirinya sudah sehat dan dibolehkan pulang.
Pada tahun 2002, Aso dan orang tuanya pindah ke Makassar. Aso disekolahkah di SD Athirah Makassar dan duduk di kelas 4. Pada tahun 2004 dia menamatkan pendidikan di sekolah milik yayasan Pak M.Jusuf Kalla tersebut.
Dari SD Athirah, Aso melanjutkan pendidikan ke SMP Athirah. Yang selalu mengherankan Lina, uang jajan Aso dari sekolah ke sekolah sama saja besarnya. Tidak pernah bertambah. Aso merasa bersyukur memiliki uang jajan, sementara di sekolahnya dia menemukan teman-temannya yang tidak mampu. Dia tidak tega menambah uang jajan di tengah banyak temannya yang tergolong orang susah.
“Ini anakku nanti akan jadi Bupati Pangkep,” tiba-tiba saja terdengar ucapan Asdar yang sempat mengagetkan Lina. Istrinya tahu betul, suaminya itu mampu melihat sesuatu yang bakal terjadi. Mungkin dapat dikategorikan sebagai memiliki indra ke-6.
“Lantas bapaknya jadi apa?,” kata Asdar seperti ditirukan Lina.
“Ya, jadi penasihat bupati,” balas Aso.
Ketika menamatkan pendidikan di SMP Athirah, Aso juga ingin menikmati sekolah negeri. Waktu itu, dia lolos di SMA Negeri 21 Makassar yang berada di Bumi Tamalanrea Permai (BTP). Tepatnya di Jl. Tamalanrea Raya Kecamatan Tamalanrea. Asdar ingin mengurusnya agar dapat masuk ke SMA Negeri 1 Makassar, tetapi Aso menolak. Pak Ilham Arief Siradjuddin yang menjabat Wali Kota Makassar ketika itu (2007) mengatakan, tidak apa-apa di SMA Negeri 21 nanti akan dijadikan sekolah unggulan. Hingga Aso menyelesaikan pendidikan di sekolah ini pada tahun 2010, SMA Negeri 21 belum memperoleh predikat unggulan.
Begitulah Aso hidup bersama kedua pasangan ini dalam balutan kasih sayang yang kental. Asdar sendiri selalu ingin Aso berada dalam suasana yang nyaman dan aman.
“Rawatlah Aso baik-baik dan yakinlah bahwa Aso juga akan menyayangi kita, “pesan Asdar kepada Lina, panggilan Herlina, perempuan yang dinikahinya 1995, seperti tertuang di dalam memorabilia berjudul “Asdar Muis RMS, Menunda Kekalahan dengan Karya, Teman, dan Makan” yang dieditori Shaifuddin Bahrum dan Andi Ahmad Saransi dan diterbitkan Baruga Nusantara , Oktober 2015.
Asdar termasuk orang yang sangat menyayangi keluarga. Guna melindungi Aso dari pengaruh negatif lingkungan, dia mendidiknya dengan keras. Aso sudah harus ada di rumah sebelum magrib. Aturan ini diberlakukan hingga dia duduk di kelas 3 SMA Negeri 21 Makassar (tamat 2010).
Suatu hari, Aso yang saat itu duduk di kelas 3 SMA izin ke pusat kota (karena mereka tinggal di pinggiran Kota Makassar) untuk mengambil pakaian seragam sekolah. Ternyata ketika dihubungi gawai yang dibawa Aso sedang “off” (tidak aktif). Hingga pukul 20.00 Aso belum muncul di rumah. Asdar mulai panik, Dia menghubungi semua teman Aso yang dikenalnya, Namun, tidak satu pun yang mengetahui ke mana Aso pergi.
“Kalau sampai pukul 21.30 Aso belum juga pulang, kami berdua akan berbagi tugas. Saya ditugaskan ke rumah sakit mencari Aso, Kak Asdar akan ke kantor polisi untuk tujuan yang sama,” tulis Lina dalam tulisan yang membuat saya sempat berharu biru.
Di benak Asdar, ada dua kemungkinan Aso tidak pulang ke rumah. Dia mengalami kecelakaan atau terlibat urusan dengan polisi. Bagi Asdar, Aso anaknya. Aso yang berpostur tinggi dan bertubuh padat membuat yang dipakai Asdar bisa berpindah kepadanya. Yang paling sering, sepatu Asdar biasa berpindah ke kaki Aso. Posisi ini membuat Aso dianggap tidak lagi sebagai anak, tetapi juga sebagai teman Asdar. Aso sendiri mengaku bangga kepada bapaknya. Bukan lantaran bapaknya memiliki banyak teman orang hebat, melainkan karena dia bapak yang baik. Bapak yang penuh perhatian dan penyayang.
Pada tahun 2010 dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FKIP) Unhas. Asdar dan Lina ingin menambahkan uang jajannya karena pastilah kebutuhan seorang mahasiswa jauh lebih besar dibandingkan ketika menjadi siswa. Masalahnya, sejak SD, uang jajan Aso tidak pernah berubah hingga SMA. Kini malah hingga perguruan tinggi dia menolak ditambah uang jajannya. Asdar yang tidak tega melihat Aso tetap bertahan dengan uang jajan yang sama jumlahnya dengan ketika SMA, akhirnya menambahkan besar.
Selama dia kuliah, terutama setahun sebelum menyelesaikan pendidikan di Unhas (2014), Aso ternyata sudah menyosialisasikan dirinya sebagai calon anggota legislatif Pangkep dari Partai Golkar. Jadi, kalau pada hari Sabtu dan Minggu, dia mendatangi masyarakat di desa-desa memperkenalkan diri. Usianya ketika itu masih sangat muda, 21 tahun.
Dalam pemilihan dia terpilih duduk di kursi DPRD Pangkep dari Partai Golkar. Ketika dilantik, dia belum diwisuda di Unhas.
“Jadi, dia sudah jadi anggota DPRD sebelum diwisuda,” kata Lina dalam percakapan melalui telepon dengan saya.
Jalan menuju anggota DPRD Pangkep periode 2014-2019 ini diawali dengan sukses Aso menjadi Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pangkep yang penuh dengan riak dan akrobatik. Keterpilihannya menjadi Ketua KNPI dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Pangkep menjadikan dia sebagai sosok pemuda yang dikenal luas oleh masyarakat di kabupaten ini.
Saat hendak mengikuti pemilihan legislatif tahun 2019-2024, Aso pada tahun 2018 terlebih dahulu pindah partai. Rusdi Masse, Ketua DPD I Partai NasDem menawarinya bergabung. Aso menerima itu dan didaulat menjadi Ketua DPD II Partai NasDem Pangkep.
Pada saat berjuang dengan bendera NasDem, Aso berusaha menyaingi, paling tidak meraih kursi sama dengan jumlah yang digaet Partai Golkar (8 kursi) yang bertahun-tahun merajai kursi di dewan. Ternyata upaya ini berhasil. Partai NasDem meraih 8 kursi. Meskipun jumlah kursi yang diraih partai besutan Surya Paloh ini sama dengan Partai Golkar, namun unggul dalam perolehan jumlah total yang diraih di Pangkep yang mencapai 900 ribu suara. Posisi ini menempatkan Aso pun sebagai Ketua DPRD Pangkep (2018-2023).
Bidikan Aso mewujudkan apa yang dikatakan bapaknya (Asdar) ketika masih SMP kini ada di depan mata. Dia bertekad mewujudkan ucapan mendiang bapaknya dan menggantikan pamannya, H,Syamsuddin Hamid yang menuntaskan periode kepemimpinannya pada tahun 2020.
Memang sempat terlontar, Aso pernah berkata pada Lina,” Biar tak berkampanye, tetap akan menjadi bupati”. Namun Lina mengingatkan dengan mengutip satu ayat yang artinya,” Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang, sepanjang orang tersebut tidak mengubah dirinya”. Lina juga menguatkan semangat Aso dengan mengingatkan, harus berdoa disertai berikhtiar.
“Doa dapat mengubah takdir. Kita harus berdoa dan berusaha,” kata Lina.
Katanya lagi, tokh, inspirasi sudah ditanamkan oleh bapak dan “Ambok” (H.Syamsul A.Hamid, ayah kandung dan Ibunya Hj Rosnaeni)-nya.
Pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020, anak yang bernama Aso tersebut adalah Muhammad Yusran Lalogau, S.Pi, M.Si. yang terpilih sebagai Bupati Pangkep berpasangan dengan H.Syahban Sammana sebagai wakil bupati. Pasangan ini meraih suara 72.973 suara (36,79%). Yusran menjadi bupati termuda, 28 tahun, setelah sebelumnya dimiliki Adnan Purichta Ichsan (34 tahun).
Yusran lahir di Pangkep 1 April 1992, putra ketiga pasangan H.Syamsul A.Hamid-Hj.Rosnaeni. Dia merupakan keponakan H.Syamsuddin A.Hamid, Bupati Pangkep dua periode (2010-2015 dan 2016-2021) yang digantikan Yusran.
Pada tahun 2018 Yusran menikahi Nurlita Wulan Purnama, perempuan yang menyandang predikat Putri Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari pernikahannya, Yusran dikaruniai Muhammad Farzan Samuas dan Muhammad Rasyidin Pasanrang, dua buah hati mereka.
Yang terasa sedih begitu Yusran terpilih sebagai Bupati Pangkep adalah tidak sempat dilihat oleh bapaknya, Asdar Muis RMS, pria bongsor yang sudah melihat anaknya itu bakal jadi bupati ketika dia masih belajar di SMP. Asdar berpulang di RS Pelamonia Makassar, 27 Oktober 2014, setelah tampil berkesenian di panggung terbuka Benteng Ford Rotterdam, Makassar. (M.Dahlan Abubakar).

BAGIKAN
Berita sebelumyaPenzaliman Verbal di Sidang Pengadilan
Berita berikutnyaBupati Selayar Mohon Doa Keselamatan Agar Penumpang KMP Bontoharu Selamat
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here