Inspirasimakassar.com:

Kuliner merupakan usaha yang tidak akan pernah mati. Sebab, selagi masih ada manusia, mereka butuh makan. Bisnis makanan inipun akan terus hidup dan berkembang.

Seseorang, mungkin bisa menahan untuk tidak beli baju atau keperluan lain, selagi dalam program berhemat, tapi tentu tidak demikian dengan membeli makanan. Kebutuhan akan makanan tidak bisa ditunda sekalipun hanya sehari.

Karenanya, bisnis kuliner banyak diminati pelaku usaha. Bisnis di bidang panganan inipun cukup banyak saingan. Untuk memulainya, butuh kiat ataupun strategi yang cukup, terutama bagi mereka yang benar-benar pemula di usaha rumahan ini.

Kebanyakan pemula, hanya memikirkan bagaimana mencari modal, menentukan jenis makanan, dan mencari tempat strategis. Mereka berpikir bahwa, kendala dalam memulai usaha adalah  memulai. Makanya, bisnis kuliner, membutuhkan perencanaan yang lebih matang. Asida salah satunya.

Makanan khas yang satu ini, memiliki cita rasa yang sulit tertandingi. Terbuat dari tepung terigu, gula merah, mentega, dan bubuk kayu manis. Kemudian, dicampur dengan sedikit kapulaga. Teksturnya kenyal. Rasanya manis, wangi, legit dengan sedikit aroma rempah.

Disantap dengan lelehan mentega dan gula putih halus dicampur kayu manis di sela-selanya. Jangan lupa secangkir teh, atau kopi hangat untuk teman bersantap. Sungguh nikmat, apalagi saat berbuka puasa. Anda kepingin mencobanya?

Kue basah ini sudah tak asing bagi warga keturunan Arab dan muslim di provinsi para raja, Maluku. Asida bahkan, menjadi camilan favorit selama bulan Ramadhan. Karena rasanya yang nikmat, asida kemudian tidak saja menjadi milik dan menjadi popular di kalangan keturunan Arab dan warga Islam di bumi penghasil rempah-rempah–cengkih dan pala itu, namun kini telah merambah di sejumlah kota. Salah satunya, Makassar. Bisnis asida di ibukota Sulawesi Selatan itu bisa ditemui di Dapur Bunda Maryam, Jalan Jati, No 30, Panakukkang Mass. Tak jauh dari SD Inpres Toddupoli Makassar.

Salah seorang warga Maluku yang kini menetap di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Nur Yusuf Latael, kepada Inspirasimakassar.com, mengakui, sekalipun bisnis rumahan yang dirintisnya baru seumur jagung, yakni tahun 2016 lalu, namun gemanya telah membumi di kabupaten pecahan Maluku Tengah tersebut.

asida

Di kabupaten yang  kini dipimpin A Mukti Keliobas dan Fachri Alkatiri ini, Nur Yusuf Latael memasarkan asidah buatannya lewat online. Misalnya, di FB dan WA.  Khusus di bulan Ramadhan ini, istri dari Lampard Payapo—staf Pemkab Seram BagianTimur ini   mengakui menyiapkan sedikitnya 80  buah Asidah saja. Dia menghargai satu buah Rp5000.

“Seperti biasa, kami menyajikan asidah di walang asida online, depan pangkalan Bula Ambon Kampung Jawa, Seram Bagian Timur. Yang berminat bisa memesan melalui  nomor  WA 082198077959. Asidah asida tersebut kami masukan dalam Mika—berguna untuk memperlihatkan kindahan asida, sehingga mengundang selera makan.  Luar biasa tanggapan masyarakat. Mereka suka, dan kepingin merasakannya.  Usai shalat ashar, keburu habis,” ujar Nur—sapaan akrab Nur Yusuf Latael.

Menyinggung  kiat sukses membangun kuliner di kabupaten bermoto “Ita Wotu Nusa”–kita membangun daerah”,  anak bungsu dari tiga bersaudara kelahiran Masohi—Maluku Tengah, 2 Maret 1977 ini, selain  mengedepankan kepercayaan dalam pembuatan jenis menu, juga, mengedepankan pelayanan yang lebih prima. Dan, yang lebih penting adalah, berani menjual rasa.

“Artinya, sesekali, kami selalu memberi contoh untuk dirasakan pelanggan. Sebab, jika enak, tentunya orang tersebut kembali untuk membeli,” tutur alumni SMA Negeri 1 Masohi ini.

Nur Jusuf Latael

Menurut Nur, bisnis asida ini diawali dengan iseng-iseng. Tetapi, lama kelamaan, mulai dikenal banak kalangan. Dari mulut ke mulut, asida buataannya memenuhi banyak permintaan, termasuk sejumlah tokoh masyarakat. Setelah banyak yang melihat di postingan, langsung meminta untuk dibuat.

Nur kemudian bertekad menjadikan bisnis asida sebagai lahan bisnis. Buktinya, banyak pelanggan yang datang ke rumahnya untuk membeli, sekaligus pesanan melalui online. Nur juga menyediakan sejumlah kue.

“Jadi, bukan saja asida, tetapi saya juga menyiapkan berbagai jenis kuliner. Misalnya, roti ayam dengan harga per mika Rp15.000, pulut unti dan pulut srikaya per mika Rp5000. Bisnis asidah dan kue-kue ini bukan saja di bulan Ramadhan, melainkan setiap saat. Untungnya lumayan,” tuturnya.

Kesuksesan Nur mengelola bisnis kuliner, tidak terlepas dari peran ibunya. “Sejak kecil, saya sudah terbiasa melihat mama masak dan buat kue. Saya selalu pelajari, bagaimana mama membuat adonan kue. Dari situ, saya mulai belajar. Dan, kini saat berkeluarga, saya mulai mengingat-ngingat masakan mama. Dan, Alhamdulillah, apa yang saya pelajari itu menjadi pelajaran berharga saat ini,” urainya.

Bagaimana kiat sukses Nur menjalankan bisnis asida di dataran Hunimoa itu? Ia mengakui, sebagai pelaku usaha pemula, tentu akan kesulitan jika harus memenuhi begitu banyak selera makan orang. Karenanya, sebelum ia memulai memilih jenis usaha kuliner yang sesuai, terlebih dahulu mengarahkan target pasar.

“Dan, bidikan saya tepat dan terarah. Banyak kalangan, baik kelas atas maupun bawah suka asida. Termasuk, yang paling penting soal kisaran harga yang pas di kantong semua kalangan,” tuturnya, melalui saluran seluler malam tadi. (din pattisahusiwa)

BAGIKAN
Berita sebelumyaAtasi Anjloknya Harga Kopra, Pemda Hadirkan Industri
Berita berikutnyaKisah Nur Latael Bisnis Asida di SBT
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, penanggungjawab dan pemimpin redaksi majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here