melati-a

Sejak kecil bunga ini dikenal sebagai buga yang melambangkan kemurnian dan kecantikan. Hingga detik ini popularitas bunga melati tak pernah surut. Melati sangat populer sebagai bunga hiasan atau bunga tabur dalam berbagai upacara adat. Juga menjadi bahan baku parfum, farmasi, kosmetik hingga perasa teh. Popularitas tanaman bernama latin  “Jasminum sambac” inilah membuat permintaan pasar mancanegara, baik  seluruh Asia, Eropa, maupun Amerika semakin tinggi. Sehari, dedikitnya 600 kg.

Sekalipun bermanfaat, namun baik pemain, maupun  pengelolaan bunga melati belum optimal. Akibatnya, melati sekadar produk sambilan.  Tetapi, setelah pasar ekspor kesejumlah negara, dan keperluan pasar lokal terus menggeliat, membuat penjual maupun supplier bunga melati terus berbenah.

Seorang supplier florist wedding and ceremony di Jakarta mengakui, jika  musim perhelatan pernikahan, dia membutuhkan bunga melati lokal sedikitnya 700 kg perbulan. Sedangkan bunga melati  grand tuscany 60 kg, belum lagi untuk kebutuhan ekspor. Sedangkan, produsen teh melati dikawasan Pameungpek, Garut, membutuhkan melati 1/2 kwintal perhari.

Peluang inilah dimanfaatkan Steve Stanley. Sejak tahun 1997, pemilik kebunbibit.com ini membudidayakan melati dikedua kebunnya di Bojonegoro dan Batu, Jawa Timur. Dia membudidayakan empat jenis. Salah satunya, melati putih varietas grand duke of tuscany, khusus untuk hiasan pengantin.

Steve Stanley, memilih mengembangkan melati melalui sistem setek. Batang yang agak tua dipotong tiga ruas, kemudian ditanam di pot kecil. Selain setek, melati juga bisa dikembangkan dengan

sistem pembibitan akar dan perundukan.

Petani lainnya adalah Suwandi, dengan 200 pohon melati dipolibag. Sejak tahun 2012, dia mengembangkan empat jenis, di antaranya melati madagaskar dan melati putih. Pria asal Riau ini mengembangkan  dengan biji dan cangkok. Dari kedua cara ini, kebanyakan konsumen lebih menyukai cangkok. Alasannya, selain lebih cepat berbunga, kualitasnya juga sama dengan pembibitan lewat benih.

Suwandi menawarkan ke pelanggan, disesuaikan dengan jenis dan kualitas. Setiap pekan dia mengantongi hingga Rp6 juta bersih. Sedangkan Hartandi di Bojonegoro membukukan keuntungan minimal Rp700.000 seminggu. Sedangkan pada musim pernikahan keuntungan semakian meningkat.

Petani lainnya, Sumadi mengaku, dalam 4 hari, sanggup mengumpulkan 9 sampai 10 kg bunga melati. Kemudian bunga tersebut dijemur hingga kering paling tidak 2-3 hari baru dijual kepenadah. Harga per kg cukup lumayan, dikisaran Rp90.000 hingga  Rp100.000. Setiap bulan, Sumadi meraup omset Rp4 juta hingga 5 juta.

Menurutnya, perawatan melati tidak sulit. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah pemangkasan pada daun dan batang. Tujuannya, menjaga pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti diinginkan. Bila dipangkas bagian cabang dan ranting secara cermat, akan terbentuk tanaman yang serasi dengan ukuran pot dan wadahnya.

Tanaman ini membutuhkan sinar matahari yang terik. Sekalipun demikian, di dataran tinggi pun bisa, asal mendapat sinar matahari penuh. Sedangkan untuk penyiraman dilakukan rutin, dua kali sehari. Namun, saat musim penghujan, penyiraman bisa dikurangi. Tanahnya jangan sampai terlalu basah. Untuk perawatan lain relatif mudah. Soalnya, tanaman ini tidak memerlukan pemupukan rutin, dan tahan terhadap penyakit.

Salah satu kesulitan hanya pada saat pasca panen. Karena, bunga melati termasuk bunga yang cepat layu. Jadi untuk menjaga kesegarannya, perlu melakukan beberapa usaha.  Misalnya disimpan pada ruang pendingin bersuhu 0-50 C terhampar  di lembar plastik. Ketika pengemasan perlu tata tiap kuntum menancap pada sebuah kapas basah dengan pengawet. Ini akan menjaga bunga segar beberapa hari dan tetap semerbak. (ozan)

BAGIKAN
Berita sebelumyaKepala SMAN 3 Makassar : Melompat Dulu Baru Berpikir
Berita berikutnyaSepeda Unik dari Bambu Tembus Amerika dan Eropa
Journalist Inspirasi Makassar. Lahir di Kutai Kartanegara, 25 Juli 1972. Studi SD hingga SMP (MTs As'adiyah) diselesaikan di sebuah desa penghasil batu bara, Santan Tengah, kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Menyelesaikan S1 di Fakultas Teknik Elektro, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Februari tahun 1999. Sementara pendidikan menengah atas ditempuh di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Watampone, Bone, Sulawesi Selatan. Mantan wartawan harian Fajar Makassar, penyiar dan reporter di radio berita Independen Fm serta kontributor Radio Berita 68H Jakarta.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here