Jalan adalah kekayaan atau aset yang sangat meluas yang secara norma di kelola dan dibiayai oleh negara sebagai penunjang terselenggaranya urusan pelayanan publik yang memadai.

Jalanan juga memiliki peranan vital dalam kehidupan keseharian masyarakat, ada banyak peranan jalan yang dirasa sangat penting oleh masyarakat sehingga perlu untuk mendapatkan perhatikan oleh pemerintah selaku pemangku kebijakan.

Sebagai pemegang kekuasaan eksekutif, pemerintah daerah Kabupaten Sinjai melalui Dinas Bina Marga seharusnya dapat lebih perhatian pada kondisi jalan, baik pada jalan yang rusak atau pada jalan yang belum dapat terakses dengan baik.

Definisi jalan dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan pada pasal 1 ayat (4) menyebutkan bahwa jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan dan perlengkapannya yang di peruntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. Kehadiran jalan yang vital bagi masyarakat dapat dilihat dari fungsi jalan yang digunakan oleh masyarakat dalam proses ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik setiap harinya.

Fungsi dan manfaat besar yang dihadirkan pada ruang publik melalui jalan ternyata kerap kali tidak mendapatkan perhatian.

Dalam studi kasus yang di angkat dalam tulisan ini adalah kondisi jalan yang berada di Jalan Gunung Bawakaraeng Kelurahan Balangnipa Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai sudah sejak 5 bulan lamanya, kondisi jalan di Jalan Gunung Bawakaraeng Mengalami kerusakan yang cukup parah.

Dapat terlihat dimana jalan tersebut berlubang, jalan yang tidak rata akibat adanya gundukan tanah di sekitar lubang serta ketika hujan melanda lubang pada jalan diperburuk oleh genangan air yang menutupi lubang yang tentu sangat berbahaya bagi setiap pengguna jalan.

Sejak 5 bulan terakhir pula, kondisi jalan yang buruk tersebut mengakibatkan banyaknya kecelakaan yang terjadi.

Ban mobil yang kandas karena tertahan pada lubang, pengendara motor yang mengerem mendadak karena menghindari lubang sampai dalam satu kesempatan terjadi 2 kecelakaan beruntun oleh pengendara sepeda motor akibat tidak mengetahui kondisi jalan yang rusak itu.

Bahkan tidak sedikit dari korban akibat kerusakan jalan mengalami cidera yang cukup serius dikarenakan jatuh pada saat melalui jalan yang ada di Jalan Gunung Bawakaraeng tersebut.

Mengenai kebijakan dan keharusan penyelenggaraan dalam hal ini kewajiban penyelenggara jalan di atur dalam Pasal 23 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan meyebutkan.

Bahwa penyelenggara untuk pemeliharaan jalan atau perkembangan tingkatan jalan harus dijaga mulai dari keamanannya, keselamatan pegendara, ketertiban pengendara dan jalan serta kelancarannya.

Selanjutnya berkaitan dengan pihak Bina Marga selaku penyelenggara yang dimaksudkan dalam undang-undang ini terkait tanggungjawab perbaikan jalan yang rusak sebagaimana Pasal 24 Ayat (1) menyebutkan bahwa penyelenggaraan harus cepat serta tanggap untuk merenovasi yang rusak yang menjadi sebab kecelakaan.

Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah seharusnya penyelenggaraan jalan oleh pemerintah harus lebih di perhatikan sebab keberadaan jalan sangat vital di dalam masyarakat dan juga bagi negara. (
Oleh: Abdullah Fatih, S. H — Wakil Presiden BEM Fakultas Hukum UNHAS 2017/2018 )

BAGIKAN
Berita sebelumyaJamaah Masjid Nurul Tijarah Sinja Kembali Serahkan Bantuan Gengset di Tenda Pengungsi
Berita berikutnyaPemprov Sulbar Bangun Perogram Komando Strategi Pengembangan Prosuksi Kedelai Dalam Negeri
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here