Saharuddin, SH bersama tokoh Selayar, KH Muchtar Adam

Kepulauan Selayar, Inspirasimakassar.com :


Anjloknya harga kopra secara global dalam kurung waktu tiga tahun terakhir bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan namun ada sekitar 240 kabupaten penghasil kopra di Indonesia yang merasa terpukul akibat harga komoditi kopra yang menurun drastis. Hanya saja kondisinya memang beda di Selayar.

Di Selayar ada janji-janji kampanye yang hingga saat ini belum bisa ditepati oleh Bupati dan Wakil Bupati terpilih HM Basli Ali – H Zainuddin. Ini yang kadang merongrong nurani masyarakat khususnya petani kopra untuk bangkit dan berteriak “Mana Janjimu”

Anjloknya harga kopra hingga dikisaran Rp 330.000 perkwintal telah membuat petani kopra di Selayar panik dan bahkan menjerit. Sehingga janji yang pernah ditorehkan oleh Bupati dan Wakil Bupati terpilih telah menjadi tuntutan bagi masyarakat petani kopra yang mencapai lebih dari 20.000 an Kepala Keluarga (KK).

Jika janji ini tidak dapat direalisasikan maka rakyat Selayar tetap akan menuntut, bukan hanya didunia tetapi diakhiratpun akan dipertanggungjawabkan oleh mereka.
     

Saharuddin, SH

Saharuddin yang sukses menuntut ilmu dari hasil penjualan kopra orang tuanya di Kalao Toa merasa prihatin jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Bahkan menurutnya kondisi ini bisa berakibat fatal hingga para petani kopra berpikiran untuk menjual kebun kelapanya kepada non pribumi.

Mestinya ini harus diantisipasi kemungkinan terburuknya. Dan ini sudah banyak dilakukan oleh petani kopra, khususnya yang menyekolahkan anaknya, baik itu di Kota Benteng, Makassar dan daerah-daerah lainnya.

Sebagai putra Selayar kelahiran Kalao Toa, Saharuddin mengaku bathinnya serasa berteriak dan menangis menyaksikan fenomena yang dialami orang sekampungnya. Ditambah lagi adanya isu dari keluarga bahwa mereka sangat kecewa dengan pemerintahan saat ini.

Adanya janji kampanye Bupati dan Wakil Bupati yang sedang berkuasa saat ini dan tidak bisa diwujud nyatakan. Bahwa jika harga kopra anjlok hingga dibawah Rp 700.000 perkwintalnya maka Perusda Berdikari yang akan mengambil alih dengan melakukan penampungan dan akan menyalurkan agar dapat menekan harga dari para tengkulat dan pemodal besar.

Namun pada kenyataanya, periode akan berakhir namun realisasi tak bakal diwujudkan.
      Adanya keinginan Pemda untuk mengatasi kegalauan masyarakat khususnya petani kopra di Selayar dengan mengelurkan edaran dan menghimbau Aparatur Sipil Negara (ASN) setempat untuk menggunakan minyak goreng asli olahan masyarakat  juga dinilai sebagai suatu ide positif. Hanya saja menurut mantan Ketua Komisi A DPRD Kota Jayapura 2 periode ini, itu sifatnya hanya jangka pendek.
      Oleh karena itu sebaiknya HM Basli Ali selaku pemegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Selayar memiliki keberanian untuk membuka akses komunikasi ke berbagai pihak termasuk pemikir pengelola kelapa yang ditawarkan oleh putra daerah sendiri Prof Dr Tajuddin Nur dengan konsep 3 in 1 atau 5 in 1.

Konsep dan ide yang ditawarkan ini mestinya disambut positif oleh Pemda tanpa memandang “anaknaji i anu” misalnya. Mari kita saling menghargai dengan mengedepankan prinsip dan nilai-nilai ke Selayar an. Gagasan ini sangat cocok diterapkan sebagai industri unggulan masyarakat Selayar yang diharapkan dapat mengangkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat didaerah ini.” ujar Saharuddin, SH

Hal senada juga dilontarkan oleh seorang petani kopra, Andi Ahmad. “Jika janji Bupati, HM Basli Ali bisa ditepati maka untuk Pemilukada September 2020 tidak perlu lagi berkampanye. Masyarakat akan konsisten untuk memilihnya kembali. Tapi sebaliknya, jika janji-janji ini menjadi palsu maka jangan heran kalau masyarakat berbalik muka. Dan sepanjang hidupnya akan menjadi bahan guncingan hingga diwarung-warung kopi.

Sebagai upaya untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya dan HM Basli Ali – H Zainuddin mengaku tidak mampu lagi untuk mewujudkannya mestinya harus jentlemen mengeluarkan jurus mengundurkan diri.

Apalagi pernyataan janji itu dinyatakan diatas kertas bermaterai dan ditekeng didepan notaris Muhammad Ridwan Zainuddin.” katanya dengan mimit kecewa. (M. Daeng Siudjung Nyulle)

BAGIKAN
Berita sebelumyaNan Unik Pantai Batu Kadera
Berita berikutnyaRp60 Miliar untuk THR ASN Pemkot Makassar
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, penanggungjawab dan pemimpin redaksi majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here