Ke depan,  ekonomi Sulawesi Selatan bakal lebih maju. Arah menuju ekonomi maju itu tidak terlepas dari bagaimana pemerintah berjalan kemana arah ekonomi yang akan di tuju. Daerah-daerah yang terisolir dibangun dengan berbagai fasilitas infrastur. Jika tidak dikelola maksimal, maka kearifan lokal dengan sumber daya alam yang besar tidak terpasarkan dengan baik. Bhkan, kelak menjadi sumber malah petaka. Seko di Kabupaten Luwu Utara misalnya.

Seko bakal menjadi segitiga emas, sekaligus penyangga di tiga provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Sebelumnya,  kecamatan di Kabupaten Luwu Utara ini ditempuh tiga hari tiga malam, dari ibukota  Masamba. Namun, setelah membangun jalan ke Seko, hanya setengah hari menggunakan kendaraan.

Demikian Gubernur Sulawesi Selatan, Prof.Dr.Ir.H.Nurdin Abdullah,M.Agr, saat menerima silaturahmi Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Provinsi Sulawesi Selatan,  di rumah jabatan gubernur, Jalan Jenderal Sudirman, Selasa, 12 November 2019. Hadir dikalangan KKM, masing-masing Prof.H.Sadly Abdul Djabar,M.P.A dan Pendeta Daniel Sopamena,M.Th (Pembina), Prof.Dr.dr.H.Atja Razak Thaha, M,Sc (Ketua KKM terpilih), Jacob Uktolseja (ketua I), Hans Palijama (Sekjen), Din Pattisahusiwa (wakil sekjen), Drs.Asri Hidayat Mahulauw (Ketua Bidang Sosial dan Keagamaan), serta Syahrul El Ghufron (Bidang Kemahasiswaan).

Gubernur H.Nurdin Abdullah mengemukakan,  Seko adalah kecamatan yang terisolir. Karena itu, pemerintahan yang dipimpinnya tengah mengebut pengerjaan jalan untuk mempermudah akses dari ibukota Luwu Utara, Masamba ke desa-desa di Kecamatan Seko. Yakni, Beroppa, Embonatana, Hoyane, Lodang, Malimongan, Marante, Padang Balua, Padang Raya, Taloto, Tanamakaleang, Tirobali, dan Wono.

Prioritas pembangunan jalan ke Seko, tidak lain karena sejak 74 tahun kemerdekaan, masyarakat di sana belum menikmati jalan yang bagus. Akibatnya, berdampak pada pelayanan kesehatan dan perekonomian yang kurang maksimal. Bahkan, untuk ke Kecamatan Seko dan sekitarnya membutuhkan biaya ojek termahal, hingga mencapai Rp1 juta. Padahal, jarak tempuh hanya sekitar 126 Km.

Seperti diketahui, anggaran untuk membuka akses ke Seko bersumber dari APBN  dan APBD dalam bentuk Bantuan Keuangan Daerah. Alokasi anggaran tahun 2019 yang diperoleh dari Dinas Bina Marga Sulsel, dari APBN (35 KM) Rp30 miliar dengan lokasi Ruas Sabbang – Tallang – Sae, KM 484 – KM 519 dengan penanganan pembukaan lahan dan pengerasan. APBD (29 Km) Rp13,075 miliar untuk ruas -Sabbang -Tallang – Sae, di KM 519 – KM 548 dengan penanganan pembukaan lahan dan pengerasan.

Ada pula bantuan keuangan (13 KM) sebesar Rp8 miliar untuk ruas Lambiri – Seko KM 548  – KM 561 dengan penanganan pembukaan lahan dan pengerasan. Akhir tahun ini sudah berfungsi, dan sudah bisa dilewati dengan angkutan darat.

Jika telah selesai, bukan saja jarak tempuh yang dipersingkat, tetapi juga dengan rancangan dua jalur, dapat mendukung percepatan ekonomi daerah. Karena itu pemerintah, akan terus berusaha agar akses yang bagus tidak hanya sampai di Seko saja,  melainkan menghubungkan antara Sulawesi Tengah melalui Sigi dan Sulawesi Barat melalui Mamuju.

Selain pengerjaan jalan menuju Seko, Pemprov Sulsel juga menggenjot perampungan jalan dari Kota Palopo menuju Rantepao, Toraja. Jalan ke daerah tujuan wisata tersebut bakal beroperasi akhir tahun ini, sekaligus menjadi hadiah tahun baru masyarakat Toraja dan  Palopo.

Anggaran yang diarahkan ke daerah-daerah tersebut Rp300 miliar untuk APBD  tahun 2019. Selain APBD, juga ada APBN bantuan dari kementerian terkait untuk kepentingan pembangunan infrastruktur.

Selain jalan, pembangunan infrastruktur lain seperti Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar dan pembangunan Bandara Buntu Kunik Toraja, sedang dalam proses penyelesaian. Bahkan pada Desember 2019, pesawat ATR72 sudah bisa mendarat di Bandara Buntu Kunik Toraja.

Apresiasi H. Nurdin Abdullah yang juga mantan Bupati Bantaeng dua periode tersebut mendapat tanggapan positif masyarakat.  Pasalnya, sejak 74 tahun kemerdekaan, masyarakat Seko belum menikmati jalan yang bagus. Akibatnya, berdampak pada pemenuhan pelayanan kesehatan dan perekonomian yang kurang maksimal.

Secara geografis, Seko terdiri dari 3 bagian, yaitu Seko Padang di bagian paling timur, Seko Tengah, dan Seko Lemo. Daerah Seko berada di dataran tinggi pegunungan “Tokalekaju” yang diapit pegunungan Quarles dan Verbeek.

Seko berada tepat di bagian tengah ”huruf K” di Pulau Sulawesi, sehingga sangat tepat kalau daerah ini disebut sebagai jantung Sulawesi. Secara keseluruhan, daerah ini memiliki luas wilayah 2.109,19 Km2, merupakan kecamatan terluas dan terjauh dengan jarak sekitar 120 km dari ibu kota Kabupaten Luwu Utara. Kecamatan ini berpenduduk sekitar 14.000 jiwa.

Kecamatan Seko berada pada ketinggian antara 1.113 sampai 1.485 meter di atas permukaan laut, dengan topografi sebagian besar  berbukit. Secara turun-temurun, Seko terdiri atas 9 wilayah adat, yaitu  Hono,  Lodang, Turong, Singkalong, Ambalong, Hoyane, Pohoneang, Kariango, dan  Beroppa’.  Wilayah adat di Seko ini dikenal sebagai wilayah yang kaya raya akan sumber daya alam, baik hasil hutan, mineral, ternak dan hasil-hasil pertanian dan perkebunan lainnya.

Setidaknya ada 4 bahasa yang termasuk rumpun bahasa seko yaitu Seko Padang, Seko Tengah, Panasuan, dan Budong-budong. Penutur bahasa tersebut berada di sepanjang sungai Karama. (din-Syahrul/inspirasi)

BAGIKAN
Berita sebelumyaKKM, Nurdin Abdullah Gubernur Merakyat
Berita berikutnyaCerita Penulis Buku Dignity Dita di Haagans Dasz
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, penanggungjawab dan pemimpin redaksi majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here