AG.Prof.Dr.KH.M.Farid Wajedi,Lc,MA (tengah) Ketua BAZNAS Makassar (pegang mike)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang zakat profesi,  19 tahun silam. Tepatnya, 7 Juni 2003. Malah, jauh sebelumnya, yakni  pada kongres zakat internasional pertama di Kairo, Mesir, pada  tahun 1984 telah mufakat, zakat profesi wajib hukumnya. Tetapi, mengapa masih ada kelompk tertentu di kalangan Islam sendiri masih mempertentangkannya?

Zakat profesi dalam fatwa tersebut, adalah, setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh secara halal. Seperti yang diterima secara rutin oleh  pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Semua bentuk penghasilan halal tersebut, wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram atau 2,5 persen. Zakat ini dapat dikeluarkan pada saat menerima.

Pendapat ini juga diserap oleh Lembaga Fatwa Kerajaaan Arab Saudi, pada 1392 H. Begitu pula pada Kongres Zakat Internasional pertama yang digelar tahun 1984 telah mufakat, bahwa zakat profesi wajib hukumnya. Fatwa ini juga diadopsi di berbagai negara muslim, termasuk Indonesia.

Zakat profesi  juga dimunculkan dari pandangan berbagai pakar fikih terkemuka. Syekh Muhammad al-Ghazali misalnya menyebut, zakat ini wajib dikeluarkan. Argumentasinya merujuk pada surah al-Baqarah 267 yang berlaku umum. Secara logika, bila seorang petani saja dibebankan berzakat, seyogianya zakat profesi pun diwajibkan.

Pandangan di atas mengemuka pada Focus Group Discussion (FGD), atau Diskusi Kelompok Terfokus  Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kabupaten-kota. Tuan rumah dalam FGD yang dibuka Ketua BAZNAS Provinsi  Sulawesi Selatan,  Muh.Khidri Alwi itu berlangsung di  Sultan Alauddin Hotel & Convention, Jalan Sultan Alauddin No 63 Makassar, Sabtu, 3 September 2022 itu dipercayakan kepada BAZNAS Kota Makassar.

Pesertanya memenuhi ruang meeting room lantai 7 di gedung bekas kampus Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar ini. Para komisioner  dari lembaga pemerintah nonstruktural se Sulawesi Selatan ini begitu antusias mengikuti tahapan diskusi yang berlangsung dua hari tersebut.

Diskusi yang dipandu Erick Alamsyah Ali itu, peserta terlihat mengeluhkesahkan pandangan mereka. Malah ada yang menyebut, jika salah seorang gubernur melontarkan pernyataan seputar tidak ada zakat profesi di jaman Rasulullah, sehingga tidak bisa terapkan saat ini. Tentunya, pandangan orang nomor satu lingkup provinsi ini dinilai telah melecehkan ketetapan para ulama  kharismatik, dan kaya pengetahuan agama, baik di Indonesia, maupun lingkup dunia.

Sebenarnya, demikian peserta dari BAZNAS Kabupaten Bulukumba, soal zakat profesi itu sudah final, sehingga tidak perlu dipersoalkan. Tapi, kemudian di tengah tengah antusiasnya kaum muslim berlomba lomba menyerahkan zakat profesi, lahirlah statemen gubernur, yang mungkin, selain minim pengetahuan agamanya, juga punya fanatisme mazhab tertentu.

Farida (BAZNAS Bone)

Makanya, agar tidak terjadi salah tafsir, peserta FGD meminta, pada Rapat Kerja Daerah (Rakorda) BAZNAS se Sulawesi Selatan yang akan berlangsung, pada Senin 12-15 September nanti juga mengundang Gubernur Sulawesi Selatan, Kakanwil Kemenag Sulsel, serta tokoh penting lainnya yang faham agama.

Artinya, jika nantinya gubernur Sulsel hadir, beliau juga bisa didengar pandangannya tentang zakat profesi. Begitu pula, beliau juga mendengar zakat profesi dari sudut pandang para ulama yang faham, serta memiliki isi kepala yang sangat dalam seputar perzakatan.

Berbagai pandangan seputar kinerja lembaga Amil pada Focus Group Discussion cair karena tampilnya sosok ulama kharismatik Sulawesi Selatan. Yaitu, AG.Prof.Dr.KH.M.Farid Wajedi,Lc,MA.

Kehadiran mantan Ketua MUI Sulsel ini ditunggu tunggu peserta sebagai pembicara utama di forum bergengsi ini. Berbagai pandangan dan buah pemikirannya begitu sempurna. Tidak lain karena, selalu mengkait kaitkan dengan dalil dalil sahih, hingga pandangan dari empat mazhab.

Pembicara lainnya yakni, Ketua BAZNAS Kota Makassar, BAZNAS Barru, Bulukumba, Bone, dan Anrekang.

BAZNAS Bulukumba

Di hadapan AG.Prof.Dr.KH.M.Farid Wajedi,Lc,MA, hampir seluruh peserta FGD  menyampaikan berbagai  persoalan yang menggeletik, hingga keluh kesah akibat pernyataan gubernur yang mengakibatkan multitafsir di tengah tengah masyarakat.

“Tantangan kita saat ini adalah, ketika orang lain berkuasa dihadapi. Perlu barangkali ada forum yang digagas BAZNAS Provinsi Sulawesi Selatan mengundang gubernur Sulsel, mengundang  Kemenag Sulsel duduk bersama,” tegas Farida dari BAZNAS Bone. Ketegasan Farida didukung BAZNAS Bulukumba, Soppeng, Barru, Anrekang, dan lainnya.

Farida menegaskan, kelembagaan harus hadir untuk menyelesaikaan persoalan besar ummat yang sengaja dikabur kaburkan.  Sebab, jika dibiarkan berlarut larut, dan belum dicari jalan tengahnya, berarti, seakan akan daerah ini tidak memiliki tokoh andal yang faham agama.

BAZNAS Selayar

“Jika secara kelembagaan,  zakat, khususnya berkaitan zakat profesi demikian penting. Hanya saja belakangan sengaja ‘dihalau’ faham tertentu. Ini jelas jelas telah membuat bingung ummat. Untuk mengembalikan ke jalan yang benar, setidaknya para ulama dan pemerintah, ayo mari duduk bersama, membahasnya dengan baik dan benar.  Jangan seperti saat ini yang hanya orang tertentu yang memiliki pengaruh saja yang didengar,” demikian penegasan Farida.

Rekan Farida, dari BAZNAS Bulukumba pun melontarkan pernyataan pedasnya. Dia menambahkan, persoalan zakat profesi tidak perlu dipersoalkan lagi. Tidak lain karena, zakat tersebut memiliki alas hukum sangat jelas.

BAZNAS Bulukumba juga mempertanyakan, apakah zakat profesi dikeluarkan setelah seluruh biaya hidup disisihkan, termasuk terlebih dahulu membayar utang. Contohnya, utang ASN di bank. BAZNAS Bulukumba juga mengusulkan dibentuknya semacam forum , atau  perserikatan menyangkut zakat. Hal ini menjadi penting. Salah satu fungsi forum ini adalah menguatkan literasi zakat, dan menguatkan toleransi bermazhab.

“Kalau toleransi beragama sering kita dengar. Tetapi tolenasi bermajhab ini yang kadang kadang  kita sendiri belum mengetahui secara pasti mazhab kita, tetapi masih belum menguat, sehingga terus dipertentangkan dengan mazhab lainnya,” urainya.

Menyoal pandangannya seperti dikemukakan Farida dan kawan kawan, AG.Prof.Dr.KH.M.Farid Wajedi,Lc,MA mengaku, siapapun tokoh, apalagi petinggi di pemerintahan  yang hanya menganggap benar, dan pandangan orang lain salah, itu harus dipertanyakan kepemimpinannya.

Ulama kharismatik ini mengaku, zakat profesi dan sejenisnya wajib dikeluarkan. Karena itu, jika saja ada pemimpin, atau kelompok tertentu, malah di kalangan Islam sendiri yang mempersoalkan, harus sadar diri. Mereka perlu diberi sosialisasi, sehingga mengerti betul menyangkut zakat.

Peserta

Pasalnya, selama belum berubah persepsi kita terhadap zakat , dan selama kita belum melihat zakat sebagai rahmat,  maka  selama itu banyak saja alasan tidak berzakat. Tetapi, kalau sudah berubah betul, maka tidak ada pertanyaan seputar zakat lagi. Sebab, zakat itu sangat menguntungkan, bukan sebaliknya, merugikan. Dengan demikian, seseorang tidak saja membatasi dirinya dengan zakat , melainkan membayar infak, dan sedekah lainnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kabupaten Barru ini menegaskan, sejatinya, seorang pemimpin punya kemampuan mengolah berbagai pandangan, berbagai dalil, berbagai mazhab, dan sejenisnya yang berkaitan dengan Islam. Tetapi, jika saja, hanya pandangan pemimpin tersebut yang benar saja, boleh jadi tidak ada zakat di zaman berkemajuan seperti saat ini.

Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang, melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan, setelah kesempitan. Demikian ia menerjemahkan Qur’an Surah At-Talaq, ayat ketujuh.

Ayat ini mengisyaratkan, bagaimana berkahnya berzakat, berinfak, dan bersedekah. Mereka yang mempunyai kelonggaran sesuai dengan kelonggarannya. Bukan hanya itu, bagi yang sempit rezekinya juga bisa hal serupa.

Di bagian lain, alumni Universitas Al Azhar Mesir mengakui, dalam bahasa arab, zakat mempunyai empat makna. Pertama kebersihan, atau kesucian. Kedua, pertumbuhan, atau perkembangan. Ketiga, kemaslahatan, atau kebaikan. Dan, ke empat, berkah.

Makna kebersihan dari zakat, jelas AG.Prof Farid Wajedi, harta  yang diperoleh orang tersebut terlebih dahulu disucikan lewat dikeluarkannya zakat. Itu sudha termasuk mensucikan hatinya. Karean didalamnya juga ada doa kepadanya. Dengan demikian doa tersebut memberikannya keterantaraman hatinya. Dan disitu pila Allah mengetahui apa yang orang itu keluarkan. Sebaliknya, jika orang tersebut tidak mengeluarkan zakatnya, maka resikonya dia memakan harta yang tidak bersih, dia makan harta yang bukan haknya.

Sedangkan makna pertumbuhan, atau perkembangan yakni, apa yang dikeluarkan akan naik ke atas melaporkan kepada Allah sebagai rasa kesyukuran dan kenikmatan. Dan, Allah mengatakan, turunlah bersama saudara saudaramu yang lebih banyak.

Artinya, jika apa yang dikeluarkan, nantinya harta kita berkurang, tetapi yakinilah besok, atau lusa, atau beberapa hari kemudian gantinya diluar dugaan, mungkin di kiri, atau di kanan. Begitu pula makna kebaikan dan dan makna berkah.

Menjawab berbagai pertanyaan, pengurus Yayasan Masjid Lailatul Qadri, M Kosim ini juga melansir Al Quran Surat At-Taubah ayat 60 “Sungguh zakat itu hanya untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah maha mengetahui, maha bijaksana.” (din pattisahusiwa)

BAGIKAN
Berita sebelumyaKonsumen Merasa Ditipu dan Dipermalukan, Hajatan Ultah di Warunk Ropang Nyaris Ricuh
Berita berikutnya223 Rumah tak Miliki Jamban di Kodingareng, BAZNAS Makassar Siap Kolaborasi
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, pemimpin perusahaan, dan penanggungjawab majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa. Pernah diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar. Kini, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here