Makassar,Inspirasimakassar.com:

Farouk Mappaseling Betta, tidak pernah berfikir ingin menjadi politisi ataupun ketua partai. Sejak kecil hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 11 Ujungpandang tahun 1985-1988, putra almarhum Letkol TNI (Purn) Mappaseling Betta dan almarhumah Asniah Mappaseling itu hanya bercita-cita jadi petani. Makanya, usai SMA, dia melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Farouk yang cerdas, muda, dan kaya pengalaman berorganisasi menjadikan terjun ke dunia politik. Ia memilih Partai Beringin Rindang, Golkar. Di partai yang kini dipimpin Nurdin Halid ini, Aru–demikian sapaan akrabnya kini dipercayaan menduduki kursi ketua DPD II Makassar.

Tidak hanya itu, cekatan dan selalu energik terhadap kepentingan masyarakat banyak membuat tiga tokoh kenamaan di Sulawesi Selatan memberikan kepercayaan.

Kehadirannya dipentas perpolitikan Sulawesi Selatan sudah tidak diragukan lagi. Dua kali bertarung di Pemilu Legislatif, dua kali itu pula Farouk M Betta meraih suara signifikan di daerah pemilihan Makassar I, meliputi tiga kecamatan, Rapoocini, Makassar, dan Ujungpandang. Bahkan , lelaki Bugis kelahiran Makassar, 22 September 1970 ini dua kali pula dipercayakan menduduki kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar.

Aru mendapat simpati dan kepercayaan masyarakat ke parlemen, tidak lain lain, karena disetiap kesempatan, ia selalu berada ditengah-tengah masyarakat, untuk melihat apa yang dikerjakan dan apa yang mereka rasakan. Apa yang masyarakat inginkan, dan yang mesti dilakukan, hingga mencari jalan keluarnya.

Saat duduk sebagai Ketua DPRD Kota Makassar, Aru terus bergeliat dan konsisten dengan janji-janji politiknya. Menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Ia juga menjembatani hubungan parlemen dan eksekutif agar berjalan sesuai koridor. Dia menjadikan lembaga yang dipimpinnya sebagai alat control bagi jalannya pemerintahan sesuai aspirasi masyarakat, sekaligus berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku.

Titik tekan yang diperankan Aru, agar parlemen menjalankan tugas, fungsi, dan kewenangannya dengan baik dan benar. Yaitu, legislasi (membentuk peraturan daerah), anggaran (membahas dan memberikan persetujuan atau tidak terhadap Rancangan APBD yang diajukan walikota), serta pengawasan (mengawasi pemerintah kota atas pelaksanaan peraturan daerah dan APBD). Mekanisme ‘Check and Balances” ini untuk meningkatkan hubungan parlemen dan aksekutif.

Di kampus Aru pernah menjabat Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian. Dari sini, suami dari Serly Lamuda ini memiliki segudang pengalaman berorganisasi. Disini pula, ia dididik menjadi manusia yang selalu memperhatikan nasih masyarakat, utamanya kalangan bawah.

Karena tu, sejak dipercayakan menduduki kursi legislator, apalagi saat mendapat amanah sebagai ketua DPRD Kota Makassar, maka dia selalu tampil di garda terdepan membela kepentingan masyarakat di Kota Daeng ini. Jika kebijakan pemerintah kota berpihak kepada masyarakat, tentunya dirinya berada digaris terdepan mengawal kebijakan tersebut. Tetapi, jika sebaliknya, maka dia pulalah yang pertama mengkritisi.

Pengalaman, kematangan, dan kapasitas yang dimilikinya membuat banyak kader Golkar di kecamatan-kecamatan menyahutinya dengan baik. Malah, pengurus PSM Makassar (2004-2007) ini diminta memegang pucuk pimpinan di DPC II Partai Golkar Kota Makassar. Tidak lain, karena banyak kalangan menyebut Aru sebagai tipikal pemimpin yang penuh wibawa, bijak, dan konsisten.

Semangat Aru yang tampil sebagai pembaharu ditubuh partai beringin rindang itu, tidak sekadar menunjukkan eksistensi kaderisasi secara internal, melainkan sebagai gambaran melahirkan dinamika dan semangat perubahan yang terus berproses. Tujuannya hanya satu, meningkatkan kualitas demokrasi. Inilah membuat keberadaannya di Golkar menjadi representasi kader muda yang brilian.

Ayah tiga orang anak masing-masing Faiyaz J Farouk, Fath Z Farouk, dan Fildzah Namira Nur Tsabitah beristrikan Sherly Lamuda ini tetap merendah. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada kader-kader Golkar untuk menentukan pilihan. Caranya, pemilik suara diberi keleluasaan menggunakan hak-hak politiknya. Jangan ada yang menggiring. Dengan demikian, siapapun memimpin Golkar Makassarke depan, yang penting partai yang lahir dari rahim Orde Baru itu tetap besar dan mampu bersaing.

Yang pasti, bungsu dari enam bersaudara, pasangan Letkol (Purn) H Mappaseling Betta (alm) dan Hj Asniah Mappaseling di partai bernomorurut 5 ini, bukan kader karbitan. Dia benar-benar lahir dari bawah. Diantaranya, AMPI dan MKGR, serta dan kini Wakil Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan dan lainnya membuatnya matang di Golkar. Apalagi, sebagai ideologi, dia selalu menyebut, partai tidak sekadar wadah yang dilirik menjelang pemilihan legislatif.

Bagi Aru, politik itu strategi. Sekaligus seni mengelola sumber daya dan potensi kader untuk mencapai tujuan menuju kemasalahatan masyarakat. Kepedulian inilah membuat masyarakat selalu menaruh harapan kepadanya.

Aru banyak makan asam garam di Golkar, hingga dipercayakan menduduki posisi strategis sebagai sekretaris pada dua orang ketua, yakni disaat Golkar dipimpin Ilha Arif Sirajuddin, maupun Supomo Guntur. Di posisi sekretaris saat itu, dia mampu menyuguhkan berbagai strategi, sekaligus membawa kader-kader terbaik di berbagai pentas, baik dikota maupun provinsi.

Aru menyebut dunia politik bukan hal baru dalam kehidupannya. Ayahnya, Mappaseling Betta, mantan anggota DPRD Makassar di era 80-an. Pada periode yang sama, dua saudara ayahnya, Mappaeabang Betta, menjadi anggota DPRD Sulsel dan Said Betta mewakili unsur mahasiswa di Senayan. (din)

BAGIKAN
Berita sebelumyaOrang Tua Wakil Ketua DPRD Makassar Telesuri Leluhur
Berita berikutnyaIrwan Djafar : Politik itu Dinamis
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, penanggungjawab dan pemimpin redaksi majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini diamanahkan sebagai Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here