Sekilas mungkin tidaK akan terlihat aneh, namun setekah anda menyaksikan sendiri karya-karya fotografer khusus surfing Ray Collin, yang selalu bermain dengan gelombang berwarna-warni terkena sinar matahari, tentunya emosi anda bakal bergolak. Tapi, tahukah anda, jika Roy Collin adalah seorang buta warna?

Ray Collin, mengalami buta warna sepanjang hidupnya. Tetapi, kondisi itu tidak pernah menyurutkan untuk mengabadikan pemandangan laut selama 8 tahun terakhir. Inilah yang menjadikannya sebagai fotografer laut terkenal di dunia.

Kebolehan Ray Collin kemudian menjadi inspirasi Bram Antareja. Salah satu fotografer kawakan Yogyakarta ini memilih tema humanis dalam setiap fotonya. Uniknya, ia juga memilih tema warna hitam putih pada setiap fotonya. Maka rekan-rekannya sesama fotografer menjulukinya sebagai fotografer buta warna. Pasar utamanya adalah para ABG dan ini adalah pasar empuk.

Menurut Bram Antareja, suburnya pundi-pundi rupiah dalam dunia fotografi tidak hanya dinikmati pemilik studio foto atau fotografer. Lahan ini juga ternyata menguntungkan para fotografer independen. Ada fotografer yang memilih tema modeling, humanis, atau panorama. Ada pula tema warna Sephia, Grayscale. Bahkan hitam putih.

Dengan kamera Nikon D80 yang dibelinya pada tahun 2008 seharga Rp15.000.000, Bram makin menggilai hobinya ini dan mampu menjual fotonya. Beberapa diantaranya dibeli agency advertising untuk sejumlah desain kalender, juga media cetak.

Untuk menjual fotonya, Bram memajang karyanya di facebooknya. Juga di website stock photography, yakni kumpulan foto yang dapat digunakan biro iklan, majalah, atau pihak-pihak lain yang membutuhkan untuk digunakan sebagai ilustrasi. Foto-foto ini dijual lepas atau disewa untuk digunakan dalam jangka waktu tertentu.

Selain lewat stock photography, karya-karya Bram Antareja juga berkali-kali ikut pameran foto. Salah satunya, di KBRI Franfkrut Jerman pada 2010. Pada tahun yang sama foto lainnya juga menjadi tanyangan utama dalam malam penggalangan dana rekonstruksi erupsi Gunung Merapi Yogyakarta yang diselenggarakan masyarakat Indonesia di Amerika. Foto karya monumental Bram adalah foto Mbah Maridjan yang diabadikan tanggal 25 Oktober 2010, satu hari sebelum erupsi yang merenggut nyawa Mbah Maridjan. Itulah dokumentasi trakhir sang juru kunci merapi semasa hidupnya.

Baik di dunia nyata maupun dunia maya, foto-foto Bram rata-rata laku antara Rp500.000 hingga Rp1.000.000. Pernah dalam satu bulan ia menghasilkan Rp50.000.000. Sebenarnya jika diniati buat jual

foto, bisa kok mendapatkan lebih dari itu”, tutur Bram saat ditemui Inspirasi di Studio Radio Female Yogyakarta.

Bisnis foto lainnya yang juga berawal dari hobi adalah foto Ilustrasi yang dijalankan dua sejoli mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Adam dan Indri. Keduanya menamakan usahanya dengan Valian Photography.

Meski sama-sama mengabadikan sebuah objek, namun memiliki dua genre seni yang berbeda. Jika foto mengabadikan objek dengan rekaman kamera, maka ilustrasi lebih mengandalkan hasil goresan

tangan sang ilustrator dalam mengabadikan objek. Persamaan berikut akan kembali bertemu jika kedua hasil rekaman ini diolah ulang dengan teknologi komputer. Pengolahaan atau pencitraan ulang inilah yang dijadikan lahan bisnis oleh kedua sejoli asal Yogyakarta dan Magelang ini.

Prosesnya dimulai dengan pengambilan foto oleh Adam sebagai fotografer, pada saat pengambilan gambar ini Indri sebagai ilustrator juga menggali aspek-aspek khusus dari objek foto yang menarik untuk dibuatkan ilustrasi.

Awalnya kedua sejoli difoto sesuai tema yang diinginkan. Hasil foto itu diolah di komputer untuk penyematan efek-efek khusus agar foto bisa ‘bercerita’. Agar lebih berkesan lagi, pasangan dibuatkan lagi ilustrasi mirip komik yang menceritakan tentang mereka berdua. Satu paket yang berisi 5 foto dan 1 ilustrasi dihargai minimal Rp750.000, tergantung tingkat kerumitan foto dan ilustrasinya masing-masing.

Mengusung tag line, Capture the Moment with Illustration Photography usaha ini memang tergolong unik dan belum ada yang menyasarnya. Model pemasarannya sangat sederhana, dari mulut ke mulut dan internet. Murah meriah dan efektif. (Suryadin Laoddang/Yogyakarta-din-MIU)

Simulasi Keuangan :

Investasi Awal

Kamera, Lensa dan Asesori Lainnya Rp 15.000.000

Piranti dan Asesoris Studio Photo Rp 8.000.000

Sewa Tempat   Rp15.000.000

Situs Internet Rp 5.000.000

2 Unit Komputer Rp 10.000.000

1 Unit Scanner Rp800.000

Printer Rp1.500.000

Perlengkapan menggambar (Pensil dan Pen Drawing) Rp 2.000.000

MODAL AWAL YANG DIBUTUHKAN Rp 57.300.000

BELANJA OPERASIONAL BULANAN

Pengeluaran

Transportasi Rp500.000

Listrik, Air dan Telepon Rp1.000.000

Jaringan dan Akses Internet Rp600.000

Karyawan 5 Orang @ Rp750.000 = Rp3.750.000

Kertas Foto dan Kertas Sket Rp1.000.000

Total Pengeluaran Rp6.850.000

Pendapatan

8 Paket Foto Couple @ Rp 500.000=Rp4.000.000

2 Foto Prewedding @Rp. 5.000.000= Rp1.000.000

2 Foto Model @Rp. 500.000= Rp1.000.000

2 Foto Keluarga @Rp. 500.000=Rp1.000.000

20 Penjualan Foto Stock @Rp. 200.000= Rp4.000.000

5 Sketsa diluar Paket Rp250.000

10 Editing Foto Rp50.000

Total Pendapatan Rp11.500.000

Keuntungan Per Bulan Rp 11.500.000 hingga Rp6.850.000 = Rp 4.650.000

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaKabag Humas Pemkab Pinrang : Mengedepankan Profesionalisme
Berita berikutnyaMendulang Rupiah dari Memotret Ibu Hamil dalam Air
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, penanggungjawab dan pemimpin redaksi majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan MUh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here