ENREKANG-4 dangke

Kabupaten Enrekang memiliki luas wilayah 1.786,01 km2. Daerah ini, selain terkenal dengan candu kopinya yang telah menembus pasar mancanegara, juga terkenal karena makanan khasnya. Dangke namanya. Penganan ini berbahan baku susu sapi murni yang dibekukkan. Setelah ditambah varian  dangke juga dapat dijadikan kerupuk. Dari camilan inilah, sang bupati dua periode di daerah berjuluk bumi Mansenrepulu itu pun menerima penghargaan dari Presdien Susilo Bambang Yudhoyono di istana negara.

Makanan khas di daerah berjuluk Massenrempulu ini bukan saja menjadi daya tarik masyarakat Enrekang, melainkan popularitasnya telah membumi  di Sulawesi Selatan. Bahkan, sudah dicicipi lidah masyarakat Malaysia, Jepang, dan Singapura.

Sunusi misalnya. Pegawai Dinas Peternakan Kabupaten Enrekang ini bersama istrinya Nur Naini memulai usaha pembuatan dangke dari seekor sapi. Saat itu juga, ia memberanikan diri mengambil kredit di salah satu bank sebesar Rp5.000.000,  untuk membuat kandang dan membeli sejumlah peralatan.

“Karena kami kelola dengan kesabaran dan ketelitian, dari sapi yang hanya sedekor mulai membuahkan hasil. Bahkan,  saya sudah memiliki sapi dalam jumlah banyak. Saya juga telah menjual puluhan ekor, dengan harga belasan juta per ekor,” tutur Sunusi beberapa waktu lalu.

Proses pembuatan dangke di kabupaten yang memiliki kekhasan tersendiri dengan kebudayaan yang  berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja ini, setelah sapinya diperas susunya, pagi dan sore. Susu tersebut kemudian dipadatkan, dengan cara direbus minimal 70 derajat Celsius, kemudian dicampur dengan  garam, getah pepaya atau buah nenas. Getah pepaya ini berfungsi  memisahkan lemak, protein, dan air.

Selain itu, getah pepaya juga untuk memadatkan bahan susu.  Gumpalan-gumpalan susu tersebut kemudian dimasukan dalam cetakan  yang terbuat dari batok kelapa. Kemudian dibungkus dengan daun pisang. Jika menggunakan getah pepaya,  dangke yang dihasilkan terasa sedikit pahit  dengan warna putih bersih. Sebaliknya jika menggunakan buah nenas, cita rasa agak asam dengan warna putih kekuningan.

Setiap harinya, Sunusi memproduksi 50 dangke. Dari dangke tersebut juga bisa dijadikan kerupuk dangke, yaitu dengan mencampurkannya dengan terigu dan gula. Setiap dangke dijual Rp12 ribu per paket, maka setiap harinya ia meraih omset Rp600.000. Sedangkan kerupuk dijual  Rp50.000 perkilo. Selain dijual perkilo, juga setengah kilo Rp25.000 dan kemasan 200 gram seharga Rp10.000.

Sekalipun ayah empat anak itu lupa tahun pasti kapan dia memulai usaha dangkenya, namun ia mengetahui persis jika usaha rumahan itu berbuah manis. Sebab, kini anak sulungnya (perempuan) kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali.

Untuk memperdalam usaha kerupuk dangke, istrinya mengikuti pelatihan khusus di Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Setelah kembali ke Enrekang, bersamaan dengan pemberian modal melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) sebesar Rp100 juta. Besaran kredit yang diberikan Rp100 juta, dengan bunga pengembilan 6 persen per tahun.

Persyaratan pemberian KKPE hampir sama dengan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bedanya, bunga KUR 14 persen setahun dengan plafon kredit maksimum Rp20 juta. KUR diberikan tanpa agunan, sedangkan KKPE hanya diberikan terhadap usaha yang sedang berjalan. Termasuk harus ada agunan,

lantaran dipertanggunjawabkan oleh masing-masing individu dalam kelompok sesuai nilai kredit yang mereka pakai.

Dengan bantuan tersebut, pria kelahiran 47 tahun silam di Lingkungan Talaga, Kampung Talaga, Kecamatan Enrekang itu bersama keluarga dan dua karyawannya terus mewujudkan impiannya menjadikan dangke dan kerupuk  lebih eksis, dengan produksi perharinya 1300.

Dangke dapat bertahan hingga satu bulan. Biasanya, saat dibawa keluar daerah sebagai oleh-oleh yang membutuhkan waktu berjam-jam atau bahkan beberapa hari, harus dibungkus dalam kemasan kedap udara.

Sunusi juga membagi kiat sukses membuka usaha dangke dan kerupuk. Pertama harus membekali diri dengan keuletan dan kerja keras. Kedua harus menyiapkan sarana dan prasarana, berupa mesin penghalus gula pasir, mixer, adonan, tempat penggorengan, dan alat cetakan. (ozan)

BAGIKAN
Berita sebelumyaMengenal Komunitas Makassar Berkebun
Berita berikutnyaZazil Bakery, Bisnis Kue Basah yang Semakin Ekspansif, Omset Rp10 Juta Per Hari
Journalist Inspirasi Makassar. Lahir di Kutai Kartanegara, 25 Juli 1972. Studi SD hingga SMP (MTs As'adiyah) diselesaikan di sebuah desa penghasil batu bara, Santan Tengah, kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Menyelesaikan S1 di Fakultas Teknik Elektro, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Februari tahun 1999. Sementara pendidikan menengah atas ditempuh di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Watampone, Bone, Sulawesi Selatan. Mantan wartawan harian Fajar Makassar, penyiar dan reporter di radio berita Independen Fm serta kontributor Radio Berita 68H Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here