Makassar, Inspirasimakassar.com :

    Angka buta aksara di wilayah timur Indonesia  masih tergolong tinggi, persentasenya masih di atas empat persen.  Menurut data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 masih ada enam provinsi di Indonesia dengan angka buta aksaranya lebih dari empat persen, yaitu Papua (22,88 persen), Nusa Tenggara Barat (7,51 persen), Nusa Tenggara Timur (5,24 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), dan Kalimantan Barat (4,21 persen).

    Mendikbud Muhadjir saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Aksara  Internasional tingkat Nasional 2019 di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi  Selatan, Sabtu (7/9/2019) mengatakan mayoritas masyarakat buta aksara itu umumnya tinggal di perdesaan dan di kantong-kantong kemiskinan. Da lebih banyak  perempuan dan berusia di atas 45 tahun.

    Mendikbud berharap ada upaya yang lebih maksimal memberantas buta aksara tersebut.  “Jika ke enam propinsi ini dapat memberantas buta aksara di daerahnya masing- masing, maka angka buta aksara Indonesia akan menurun secara signifikan,” tegas  Muhadjir.

    Sementara itu, Gubernur Sulsel Prof HM Nurdin Abdullah, menyampaikan rasa terima kasih atas ditunjuknya Makassar sebagai tuan rumah. Sesuai tema, yaitu ragam budaya lokal dan literasi masyarakat, Gubernur Sulsel  memperkenalkan salah satu nilai luhur yang lahir dari Sulsel. Yaitu sipakatau, sipakainge dan sipakalebbi, yang memiliki arti saling memanusiakan, saling mengingatkan dan saling menghargai.

  Nilai ini diajarkan secara turun-temurun oleh orang tua kita untuk membentuk  karakter kita bersama,: sebutnya.  Ia yakin, dengan menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari, maka bisa menciptakan keharmonisan dan suasana yang kondusif di tengah-tengah  masyarakat. Ini juga dapat diterapkan di era yang serba menggunakan teknologi.

    Misalnya dengan sosial media untuk menyebarkan berita yang baik dan termasuk dalam memerangi penyebaran berita hoaks. “Inilah tantangan literasi pada abad 21 yang lebih dari kemampuan baca, tulis dan hitung. Literasi yang berdasar budaya luhur, saling menghargai, menyebarkan kebaikan dan kritis menerima setiap informasi yang kita terima,” ujarnya.

    Mantan Bupati Bantaeng ini menyebut persoalan buta aksara merupakan masalah besar yang mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia, khususnya di Sulsel. Berdasarkan data BPS, Indeks Pembangunan Manusia atau IPM Provinsi Sulsel 2018 mencapai 70,90.

    Berdasarkan peta daerah, IPM di Sulsel terbilang positif, karena sebagian sudah berstatus tinggi. Dari 24 kabupaten kota, tinggal 11 kabupaten dengan status sedang,  tujuh daerah berstatus tinggi, yaitu Parepare, Palopo, Luwu Timur,  Enrekang Pinrang, Sidrap, Barru, dan Kota Makassar satu-satunya berada di level  sangat tinggi.

   “ Gerakan literasi sekarang ini menjadi gerakan yang terus disosialisasikan pada setiap lapisan masyarakat. :Kegiatan literasi merupakan suatu bentuk hak dari setiap orang untuk belajar sepanjang hidupnya,”  ujar Nurdin.

    Memeriahkan kegiatan tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini danPendidikan Masyarakat bekerjasama dengan Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar,    menyelenggarakan berbagai kegiatan. Antara lain pameran produk unggulan PAUD dan Dikmas Festival Literasi Indonesia, evaluasi pelaksanaan saran dan kesetaraan pendidikan keaksaraan, komunitas adat terpencil dan khusus, bimbingan teknis pendidikan berkelanjutan, percepatan satuan pendidikan non-formal terakreditasi dan berbagai kegiatan lainnya. 

    Hadir juga dalam peringatan Hari Aksara Internasional Tingkat Nasional, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy, Bunda PAUD  Sulsel Lies F Nurdin, Ketua Dewan Pendidikan Sulsel dan Ketua PGRI Sulsel. (*)

BAGIKAN
Berita sebelumyaKapolda Sulbar Yakin Warga Papua Aman
Berita berikutnyaMenpan RB Hadiri Stadium General FTI UMI
Wartawan kriminal dan politik harian Pedoman Rakyat Ujungpandang dan sejumlah harian di Kota Daeng Makassar, seperti Ujungpandang Ekspres (grup Fajar) dan Tempo. Saat ini menjadi pemimpin umum, penanggungjawab dan pemimpin redaksi majalah Inspirasi dan Website Inspirasimakassar.com. Sarjana pertanian yang juga Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali--kini Universitas Islam Makassar ini menyelesaikan pendidikan SD di tanah kelahirannya Siri Sori Islam Saparua, SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon. Aktif di sejumlah organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Di organisasi kedaerahan, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuhepaly ini beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar, Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here